Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Nabi Dan Rasul

Diposting pada

Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Nabi & Rasul Serta Dalil Naqlinya – Agama Islam berisi ajaran yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai hamba Allah, individu, anggota masyarakat maupun sebagai makhluk dunia. Termasuk di dalamnya masalah kepemmpinan. Kepemimpinan dalam Islam pada dasarnya aktivitas menuntun, memotivasi, membimbing, dan mengarahkan agar manusia beriman kepada Allah SWT, dengan tidak hanya mengerjakan perbuatan atau bertingkah laku yang diridhai Allah SWT.


Islam sangat cermat dalam menetapkan pemimpin yang akan menjadi teladan yaitu menyuburkan dan membangun kepribadian Muslim. Salah seorang pemimpin yang memenuhi kualitas seperti itu, bagi seluruh umat Islam adalah Nabi dan Rasul Allah Swt.


Rasul sebagai utusan Allah Swt. memiliki sifat-sifat yang melekat pada dirinya. Sifat-sifat ini sebagai bentuk kebenaran seorang rasul. Sifat-sifat tersebut adalah sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz. Dan betapa penting nya bagi kita untuk mengetahui sifat-sifat rasul.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Akhlak – Tujuan, Jenis, Ruang, Lingkup, Faktor, Karimah, Perbedaan

sifat wajib dan mustahil bagi rasul

 


Sifat Wajib Bagi Nabi Dan Rasul

Sifat wajib artinya sifat yang pasti ada pada rasul. Tidak bisa disebut seorang rasul jika tidak memiliki sifat-sifat ini. Sifat wajib ini ada 4, yaitu seperti berikut :

  • 1. As-Siddiq Artinya Benar, Jujur.

Shiddiq adalah hadirnya suatu kekuatan yang dapat melepaskan diri dari sikap dusta atau tidak jujur terhadap Tuhannya, dirinya sendiri, maupun orang lain.

As-Siddiq, yaitu rasul selalu benar. Apa yang dikatakan Nabi Ibrahim as. Kepada bapaknya adalah perkataan yang benar. Apa yang disembah oleh bapaknya adalah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan mudarat, jauhilah. Peristiwa ini diabadikan pada Q.S. Maryam/19: 41 Berikut Ini :

Quran Surat Maryam Ayat 19 Sampai 41

Artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (al-Qur’ān), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan seorang nabi.” (Q.S. Maryam/19: 41)


Peranannya sebagai seorang Rasul dan pemimpin telah diberikan oleh Allah sebuah kitab sebagai penguat misinya itu. Nabi Muhammad Saw teladan umat telah ditonjolkan oleh Allah sebagai manusia pilihan, oleh karena itu sunnahnya, cara hidupnya menjadi satu-satunya perilaku yang sah bagi kaum muslim. Sebagaimana sabda Nabi Saw

فمنْ اقْتدى بي فهو منّي ومنْ رغب عنْ سنّتي فليْس منّي

“Siapa yang mengikuti jejakku maka ia termasuk golonganku. Dan barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.”


Sidiq: Benar,Jujur.

Adalah berita yang dibawa para Nabi dan Rasul pasti benar adanya sesuai dengan fakta dan realiti kenyataan .

Lawan Sidiq adalah Kadzib, Bohong . Berita yang dibawanya tidak sesuai dengan realiti.


Petunjuk akal :     

Andaikan Para Nabi dan Rasul bersifat sebaliknya yaitu Kadzib (bohong). maka berita Tuhan tentang pembenaran terhadap para Nabi dan Rasul pun juga bohong. Perbuatan dan percakapan para Nabi dan Rasul adalah datang dari Allah melalui wahyu yang disampaikan oleh Malaikat Jibril AS. Tuhan berbohong adalah tidak masuk akal. Kebenaran berita Allah menunjukakan bahwa para rasul tidak Bohong. Bukti Nyata Adalah Isi Kitab Alquran Yang Tidak Pernah Meleset Bahkan Tidak Bisa Ada Yang Mengubahnya Walaupun Hanya 1 Ayat dan Hurufnya.

Kesimpulan : Para Nabi dan Rasul wajib bersifat Sidiq dan mustahil bersifat Kadzib.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Akhlakul Karimah Adalah : Dalil, Pengertian, Jenis, Dan Contohnya


  • Al-Amanah ( Artinya Dipercaya )

Yaitu segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik yang menyangkut dirinya, hak orang lain, maupun hak Allah SWT, atau sesuatu yang diberikan kepada seseorang yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengembannya. Arti sesungguhnya dari penyerahan amanah kepada manusia adalah Allah SWT percaya bahwa manusia mampu mengemban amanah tersebut sesuai dengan keinginan Allah SWT.


Karakter yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin sebagaimana karakter yang dimiliki Rasul yaitu sifat dapat dipercaya. Beliau jauh sebelum menjadi Rasul pun sudah dibeli gelar al-Amin (yang dapat dipercaya). Sifat amanah inilah yang dapat mengangkat posisi Nabi di atas pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab pada amanah, tugas, dan kepercayaan yang diberikan Allah Swt. Yang dimaksud amanah dalam hal ini adalah apapun yang dipercayakan kepada Rasulullah Saw meliputi segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, maupun agama.


Firman Allah yang yang berbicara tentang amanah yang emban oleh setiap manusia terdapat dalam surat Al-Ahzab ayat 72 yang artinya :

 “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zolim dan bodoh”.


Al-Amānah, yaitu rasul selalu dapat dipercaya. Di saat kaum Nabi Nuh as. mendustakan apa yang dibawa oleh Nabi Nuh as. lalu Allah Swt. Menegaskan bahwa Nuh as., adalah orang yang terpercaya (amanah). Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. asy-Syu’āra/26 106-107 berikut ini yang artinya :

Artinya: “Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.” (Q.S. asy-Syu’āra/26: 106- 107).


Lawan Amanah adalah Khiyanat artinya menyalahi perintah Allah dan durhaka kepadaNya.

Petunjuk akalnya :

Andaikan Nabi dan Rasul tidak bersifat Amanah tentunya mereka bersifat Khiyanat yaitu meninggalkan perintah Allah dan melanggar laranganNya.Jika Nabi dan Rasul berkhiyanat,maka tentunya kita sebagai umatnya juga disuruh mengikuti mereka dengan berbut dosa dan kemungkaran,

sebab Allah telah berfirman :

قل إن كنتم تحبون الله فاتبعونى

Katakanlah Muhammad; Jika kamu sekalian mencintai Allah, maka ikutilah sunnahku ( QS. Ali Imran : 31 )

( إن الله لا يأمر بالفحشاء

Sesungguhnya Allah tidak memerintah kepada hal yang keji ( QS.Al A’raaf : 28 )

Kesimpulan : Nabi dan Rasul wajib bersifat Amanah dan mustahil bersifat Khiyanat.


  • At-Tablig ( Artinya Menyampaikan Wahyu )

Dalam makna bahasa, tabligh berati menyampaikan sedangkan dalam makna istilah adalah menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang diterima dari Allah SWT kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman dan dilaksanakan agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Isi yang utama dan pokok aktivitas tabligh adalah amar ma’ruf nahi munkar (perintah untuk mengerjakan yang baik dan larangan untuk mengerjakan perbuatan yang keji) serta mengajak beriman kepada Allah SWT.


Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Ali bin Abi Talib ditanya tentang wahyu yang tidak terdapat dalam al-Qur’ān, Ali pun menegaskan bahwa “Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap al-Qur’ān.” Penjelasan ini terkait dengan Q.S. al-Māidah/5: 67 yang artinya berikut ini :


Artinya:“Wahai rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (Q.S. al-Māidah/5: 67)


Lawan Tabligh adalah, Kitman artinya : Menyembunyikan wahyu yang diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada umat.

Petunjuk akalnya :

Andaikan para Rasul tidak bersifat Tabligh,tentu mereka bersifat sebaliknya yaitu Kitman atau merahasiakan wahyu Tuhan.Jika demikian halnya maka kitapun pasti juga disuruh merahasiakan ilmu,sebab Allah telah menyuruh kita untuk mengikuti para Nabi dan Rasul dalam firmanNya :

واتبعوه لعلكم تهتدون

Dan ikutlah dia ( Muhammad ) supaya kamu dapat pentunjuk ( QS. Al A’raaf : 158 )

Tidak benar jika kita disuruh menyimpan ilmu sebab seseorang yang merehasiakan ilmunya dan tidak mahu mengajarkan kepada orang lain adalah dilaknat Tuhan dalam firmanNya :

إن الذين يكتمون ما أنزلنا من الكتب ألئك يلعنهم الله ويلعنهم اللعنون

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk,setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab,mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati. (QS. Al Baqarah : 159 )


Perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah bahwa Rasul disuruh menyampaikan wahyu Tuhan sedangkan Nabi tidak.Sekalipun Nabi tidak disuruh menyampaikan Wahyu ,tetapi para Nabi tetap menyampaikan berita tentang kenabiannya kepada umat dan terkadang Nabi juga berfatwa mengenai syare’at para Rasul sebelumnya.Jadi bukan berarti seorang Nabi tidak berdakwah sama sekali.

Kesimpulan : Para Nabi dan Rasul wajib bersifat Tabligh dan Mustahil bersifat Kitman.


  • Al-Faṭonah ( Artinya Cerdas )

Al-Faṭānah, yaitu rasul memiliki kecerdasan yang tinggi. Ketika terjadi perselisihan antara kelompok kabilah di Mekah, setiap kelompok memaksakan kehendak untuk meletakkan al- Hajār al-Aswād (batu hitam) di atas Ka’bah, lalu Rasulullah saw. menengahi dengan cara semua kelompok yang bersengketa agar memegang ujung dari kain itu. Kemudian, Nabi meletakkan batu itu di tengahnya, dan mereka semua mengangkat hingga sampai di atas Ka’bah. Sungguh cerdas Rasulullah SAW.


Lawan Fathonah, Baladah artinya : Tidak cerdas dan pelupa.

Petunjuk akalnya :

Andaikan para Nabi dan Rasul tidak bersifat Fathonah,maka tentunya mereka bersifat Baladah.Jika Nabi dan Rasul bersifat Baladah maka mereka pasti tidak akan mampu menjawab dan menundukkan argumentasi musuh-musuhnya dalam perdebatan.Padahal yang demikian ini mustahil sebab kenyataan telah terbukti dalam perdebatan mereka mampu mengalahkan musuhnya .Banyak saksi-saksi yang melihat kemampuan mereka, diantaranya Al Qur an sendiri banyak menceritakan kisahnya. Allah berfirman :

 

وتلك حجتنا ءاتينها ابرهيم على قومه

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya (QS. Al An’am : 83)

( قالوا ينوح قد جدلتنا فاكثرت جدالنا

Mereka berkata : Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu kepada kami. (QS. Hud : 32)

 

وجدلهم بلتى هي أحسن

Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS. An Nahl : 125)


Kesimpulan : Para Nabi dan Rasul wajib bersifat Fathonah (cerdas)dan mustahil bersifat Baladah (bebal).


Baca Juga : 101 Nama Nama Hari Akhir (Kiamat) Dalam Al Quran Dan Dalilnya


Sifat Mustahil Bagi Nabi Dan Rasul

Sifat mustahil adalah sifat yang tidak mungkin ada pada rasul. Sifat mustahil ini lawan dari sifat wajib, yaitu seperti berikut.

  1. Al-Kiẓẓib

Al-Kiẓẓib, yaitu mustahil rasul itu bohong atau dusta. Semua perkataan dan perbuatan rasul tidak pernah bohong atau dusta.

Artinya: “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur’ān) menurut keinginannya tidak lain (al-Qur’ān) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S an-Najm/53: 2-4)


  1. Al-Khianah

Al-Khiānah, yaitu mustahil rasul itu khianat. Semua yang diamanatkan kepadanya pasti dilaksanakan.

Artinya: “Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), tidak ada Tuhan selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (Q.S al-An’ām/6: 106)


  1. Al-Kiṭman

Al-Kiṭmān, yaitu mustahil rasul menyembunyikan kebenaran. Setiap firman yang ia terima dari Allah Swt. pasti ia sampaikan kepada umatnya.

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang di wahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya).” (Q.S. al-An’ām/6: 50).


  1. Al-Baladah

Al-Balādah yaitu mustahil rasul itu bodoh. Meskipun Rasulullah saw. Tidak bisa membaca dan menulis (ummi) tetapi ia pandai.

Artinya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta janganlah pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Q.S al- A’rāf/7: 199).


Sifat Jaiz Bagi Nabi Dan Rosul

Sifat jaiz bagi rasul adalah sifat kemanusiaan, yaitu al-ardul basyariyah, artinya rasul memiliki sifat-sifat sebagaimana manusia biasa seperti rasa lapar, haus, sakit, tidur, sedih, senang, berkeluarga dan lain sebagainya. Bahkan seorang rasul tetap meninggal sebagai mana makhluk lainnya. Di samping rasul memiliki sifat wajib dan juga lawannya, yaitu sifat mustahil, rasul juga memiliki sifat jāiz, tentu saja sifat jāiz-nya rasul dengan sifat jaiznya Allah Swt. sangat berbeda.


Allah Swt. berfirman:

Artinya: “…(orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan seperti apa yang kamu makan dan dia minum seperti apa yang kamu minum.” (Q.S. al Mu’minūn/23: 33)

Selain tersebut di atas, rasul juga memiliki sifat-sifat yang tidak terdapat pada selain rasul, yaitu seperti berikut.

  1. Ishmaturrasūl

adalah orang yang ma’shum, terlindung dari dosa dan salah dalam kemampuan pemahaman agama, ketaatan, dan menyampaikan wahyu Allah Swt. sehingga selalu siaga dalam menghadapi tantangan dan tugas apa pun.

  1. Iltizamurrasūl

adalah orang-orang yang selalu komitmen dengan apa pun yang mereka ajarkan. Mereka bekerja dan berdakwah sesuai dengan arahan dan perintah Allah Swt. meskipun untuk menjalankan perintah Allah Swt. Itu harus berhadapan dengan tantangan-tantangan yang berat baik dari dalam diri pribadinya maupun dari para musuhnya. Rasul tidak pernah sejengkal pun menghindar atau mundur dari perintah Allah Swt.


Petunjuk akalnya :

Banyaknya saksi yang melihat sendiri kegiatan para Nabi dan Rasul melakukan hal-hal yang manusiawi pada zamannya. Banyak sekali kisah tersebut secara mutawatir dan dipastikan tidak bohong telah sampai kepada kita.

Kesimpulan : Para Nabi dan Rasul jaiz (boleh) memiliki sifat-sifat umumnya manusia selama tidak mengurangi derajat kedudukan mereka.


Baca Juga Kajian Penting Tentang : Rukun Sholat : Pengertian, Syarat, Manfaat Dan Makna Sholat


DAFTAR PUSTAKA
Rachmat Ramadhana al-Banjari, Prophetic Leadership, Jogjakarta, DIVA Press, 2008, hlm 154.
Abdul Hayyie al-Kattani dkk, Bagaimana Mencintai Rasulullah Saw, Jakarta, GEMA INSANI PRESS, 2002, hlm 96-100.
Rachmat Ramadhanaal-Banjari, Membaca Kepribadian Muslim seperti Membaca Al-Quran , Jogjakarta, DIVA Press, 2008, hlm 284-294.
Bahrun Abubakar Ihsan Zubaidi, Visualisasi Kepribadan Nabi Muhammad Saw, Bandung, Irsyad Baitus Salam, 2006, hlm 245.