Laju Reaksi : Pengertian, Rumus, Contoh Soal Dan Faktor Yang Mempengaruhi

Diposting pada

Laju Reaksi : Pengertian, Faktor Yang Mempengaruhi, Dan Rumus Beserta Contoh Soalnya Lengkap

Tahukah anda apa yang dimaksud dengan laju reaksi ??? Jika anda belum mengetahui nya anda tepat sekali mengunjungi gurupendidikan.com. Karena pada kesempatan kali ini disini akan mengulas tentang pengertian laju reaksi, faktor yang mempengaruhi laju reaksi, dan rumus laju reaksi beserta contoh soalnya secara lengkap. Oleh karena itu marilah simak ulasan yang ada dibawah berikut ini.

Laju Reaksi Rumus Contoh Soal

Pengertian Laju Reaksi

Laju reaksi merupakan laju penurunan reaktan (pereaksi) atau laju bertambahnya produk (hasil reaksi). Laju reaksi ini juga menggambarkan cepat lambatnya suatu reaksi kimia, sedangkan reaksi kimia merupakan proses mengubah suatu zat (pereaksi) menjadi zat baru yang disebut dengan produk.

 

Beberapa reaksi kimia ada yang berlangsung cepat. Natrium yang dimasukkan ke dalam air akan menunjukkan reaksi hebat dan sangat cepat, begitu pula dengan petasan dan kembang api yang disulut. Bensin akan terbakar lebih cepat daripada minyak tanah. Namun, ada pula reaksi yang berjalan lambat. Proses pengaratan besi, misalnya, membutuhkan waktu sangat lama sehingga laju reaksinya lambat.

 

Cepat lambatnya proses reaksi kimia yang berlangsung dinyatakan dengan laju reaksi. Dalam mempelajari laju reaksi digunakan besaran konsentrasi tiap satuan waktu yang dinyatakan dengan molaritas. Apakah yang dimaksud molaritas? Simak uraian berikut.

Molaritas sebagai Satuan Konsentrasi dalam Laju Reaksi

Molaritas menyatakan jumlah mol zat dalam 1 L larutan, sehingga molaritas yang dinotasikan dengan M, dan dirumuskan sebagai berikut.

M = n/V

Keterangan :

n = jumlah mol dalam satuan mol atau mmol
V = volume dalam satuan L atau mL


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Reaksi

Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain:

1. Konsentrasi Reaktan

Semakin tinggi konsentrasi reaktan, semakin banyak jumlah partikel reaktan yang bertumbukan, sehingga semakin tinggi frekuensi terjadinya tumbukan dan lajunya meningkat. Sebagai contoh, dalam reaksi korosi besi di udara, laju reaksi korosi besi lebih tinggi pada udara yang kelembabannya lebih tinggi (konsentrasi reaktan H2O tinggi)

2. Wujud Fisik Reaktan

Jika reaktan yang bereaksi dalam wujud fisik (fasa) yang sama, semuanya gas atau semuanya cair, maka tumbukan antar partikel didasarkan pada gerak acak termal dari partikel. Jika reaktan yang bereaksi berbeda wujud fisik (fasa), tumbukan yang efektif hanya terjadi pada bagian antarfasa. Jadi, reaksi dengan reaktan-reaktan berbeda fasa dibatasi oleh luas permukaan kontak reaktan.

 

Oleh karena itu, semakin luas permukaan kontak reaktan per unit volum, maka semakin tinggi frekuensi terjadinya tumbukan partikel reaktan dan laju reaksi meningkat. Sebagai contoh, pada reaksi pembakaran kayu, akan lebih mudah dan cepat membakar kayu gelondongan yang telah dipotong menjadi balok-balok kecil dibanding dengan langsung membakar kayu gelondongan tersebut.

 

3. Temperatur

Semakin tinggi temperatur maka semakin tinggi energi kinetik dari partikel reaktan, sehingga frekuensi tumbukan dan energi tumbukan meningkat. Oleh karena itu, semakin tinggi temperatur, laju reaksi juga semakin cepat. Sebagai contoh, pada reaksi glowing stick menyala (reaksi chemiluminescence), glowing stick menyala lebih cepat dan terang di dalam air panas dibanding dalam air dingin.

4. Keberadaan Katalis

Katalis adalah zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tanpa terkonsumsi di dalam reaksi tersebut. Katalis menyediakan alternatif jalur reaksi dengan energi aktivasi yang lebih rendah dibanding jalur reaksi tanpa katalis sehingga reaksinya menjadi semakin cepat.


Rumus Laju Reaksi

Laju reaksi kimia bukan hanya sebuah teori, namun dapat dirumuskan secara matematis untuk memudahkan pembelajaran. Pada reaksi kimia: A → B, maka laju berubahnya zat A menjadi zat B ditentukan dari jumlah zat A yang bereaksi atau jumlah zat B yang terbentuk per satuan waktu. Pada saat pereaksi (A) berkurang, hasil reaksi (B) akan bertambah. Perhatikan diagram perubahan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi pada Gambar 3.

Diagram perubahan konsentrasi pereaksi dan hasil reaksi.

Berdasarkan gambar tersebut, maka rumusan laju reaksi dapat kita definisikan sebagai:

 

 

a. berkurangnya jumlah pereaksi (konsentrasi pereaksi) per satuan waktu, atau , dengan r = laju reaksi, – d[R] = berkurangnya reaktan (pereaksi), dan dt = perubahan waktu. Untuk reaksi : A → B, laju berkurangnya zat A adalah : 

Baca Juga :  "Siklus Hidup Cacing Pipih" Beserta ( Sistem Pencernaan - Klasifikasi )

b. bertambahnya jumlah produk (konsentrasi produk) per satuan waktu, atau , dengan +Δ[P] = bertambahnya konsentrasi produk (hasil reaksi). Untuk reaksi : A → B, laju bertambahnya zat B adalah : 

Bagaimana untuk reaksi yang lebih kompleks, semisal : pA + qB → rC.

Untuk reaksi demikian, maka :

Dalam perbandingan tersebut, tanda + atau – tidak perlu dituliskan karena hanya menunjukkan sifat perubahan konsentrasi. Oleh karena harga dt masing-masing sama, maka perbandingan laju reaksi sesuai dengan perbandingan konsentrasi. Di sisi lain, konsentrasi berbanding lurus dengan mol serta berbanding lurus pula dengan koefisien reaksi, sehingga perbandingan laju reaksi sesuai dengan perbandingan koefisien reaksi. Perbandingan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut.

rA : rB : rC = p : q : r


  • JURNAL PERCOBAAN LAJU REAKSI DAN PEMBAHASAN

ALAT DAN BAHAN

> ALAT

1.tabung reaksi(6 buah)
2.rak tabung reaksi(1 buah)
3.stopwatch(1 buah)
4.kertas hvs(1 lembar)
5.gelas beaker 100ml(2 buah)
6.water bath(1 buah)
7.thermometer(1 buah)
8.pipet tetes(2 buah)
9.neracaohaus(1 buah)
10.gelas ukur(1 buah)
11.alu dan mortar(1 buah)
12.spatula(1 buah)
13.cawan petri(1 buah)
14.penjepit kayu(1 buah)
15.spidol(1 buah)
BAHAN
1.pita magnesium(4 pcs Masing-masing 0,5 cm)
2.HCl 0,1M(15 ml)
3.HCl 0,5M(1 ml)
4.HCl 1M(1ml)

 

5.HCl 2M(1ml)
6.HCl 3M(1ml)
7.Na2S2O3(15 ml)
8.NaCl 0,1M(4 tetes)
9.FeCl3 0,1M(4 tetes)
10.H2O2(15 ml)
11.Marmer Serbuk(1 gram)
12.Marmer Bongkahan(1 gram)

 

 

  1. METODE KERJA
Percobaan 1

NoLangkah kerjaHasil pengamatan
1Disiapkan 4 buah tabung reaksi masing-masing diberi nomor (1,2,3,4)tidak terjadi reaksi
2dimasukan potongan pita magnesium kedalam tabung masing-masing 0,5 cmtidak terjadi reaksi
3–  Ditambahkan HCl 0,5M ke tabung 1 sebanyak 20 tetes

–  Ditambahkan HCl 1M ketabung 1 sebnayak 20 tetes

–  Ditambahkan HCl 2m ke tabung 2 sebayak 20 tetes

tabung 1 : pita magnesium larut pada                 234s.  terdapat banyak

gelembung

tabung 2 : larut pada 104s. terdapat gelembung dan sedikit uap tabung     3 : larut pada 28s.

gelembung sedikit dan keluar asap tabung           4 :  larut pada 11s.

 

 

Percobaan 2

NoLangkah kerjaHasil pengamatan
1tandai           kertas           hvs

menggunakan spidol dengan tanda x

tidak terjadi reaksi
2dituangkan na2s203 0,1M kedalam         gelas         ukur

sebanyak 15 ml

tidak terjadi reaksi
3dituangkan Na2S2O3 0,1M kedalam       gelas       beaker

sebanyak 15 ml

tidak terjadi reaksi
4masukan        thermometer

kedalam gelas beaker untu mengukur      suhu         awal

Na2S2O3

suhu 29oc
5dituangkan HCl            0,1M

kedalam        gelas        ukur

sebanyak 15 ml

tidak terjadi reaksi
6Dituangkan HCl kedalam gelas         beaker          berisi

Na2S2O3 0,1M yang berada di atas kertas yang telah ditandai

Terjadi perubahan warna yaitu berwarna putih susu dan larutan berbau
7panaskan Na2S2O3 dan HCl masing-masing        15       ml

didalam water bath sampai suhu (60,50,40)oc

Larutan menjadi panas karena suhu meningkat setelah dipanaskan
8dituangkan        HCl        dan

Na2S2O3 secara bersamaan kedalam gelas beaker diatas kertas yang telah ditandai

Larutan menjadi berwarna putih susu sampai tanda X tidak tampak. Pada suhu:

60oC= 52s 50oC = 107s 40oC = 122s

 

 

Percobaan 3

NoLangkah kerjaHasil pengamatan
1Dihaluskan marmer dengan menggunakan       alu       dan

mortar

Batu marmer menjadi halus
2Ditimbang marmer halus sebanyak 1 gram dengan menggunakan neraca ohausTidak terjadi reaksi
3Ditimbang            bongkahan

marmer sebanyak 1 gram dengan            menggunakan

neraca ohaus

Tidak terjadi reaksi
4Dituangkan        HCl        2M

sebanyak 5 ml kedalam gelas beaker

Tidak terjadi reaksi
5Dimasukan serbuk marmer 1 gram kedalam gelas beaker yang berisi HClTerbentuk gelembung dalam jumlah banyak.

Larutan berwarna kuning keruh. Larut pada detik ke 209

6Dituangkan        HCl        2M

sebanyak 5ml kedalam gelas beaker

Tidak terjadi reaksi
7Dimasukan           bongkahan

marmer 1 gram kedalam gelas beaker yang berisi HCl

Terbentuk gelembung dalam jumlah sedikit.

Bongkahan tidak sepenuhnya larut. Berwarna keruh.

Habis bereaksi pada menit ke 26, 12 detik.

 

 

Percobaan 4

NoLangkah kerjaHasil pengamatan
1Dituangkan H2O2 sebanyak 5ml kedalam gelas ukurTidak terjadi reaksi
2Dituangkan H2O2 kedalam 3 tabung reaksi masing-masing 5 mlTidak terjadi reaksi
3–  Tabung 1 sebagai control

–  Tabung 2        ditambahkan

FeCl3 sebanyak 4 tetes

–  Tabung     3     ditambahkan

NaCl 4 tetes

–   Tabung 1 tidak terjadi reaksi

–   Tabung 2 awalnya terbentuk 2 lapisan coklat tua dan bening, keluar asap, mendidih, terbentuk uap di dinding tabung, tabung panas, warna menjadi nyatu yaitu berwarna coklat muda.

–   Tabung 3 terbentuk gelembung dalam jumlah banyak.

 

 

  1. ANALISIS DATA
A. Faktor konsentrasi terhadap laju reaksi

NoReaksiWaktu (s)Hasil pengamatan
1Pita Mg + 1ml HCl 0,5M234Gelembung banyak
2Pita Mg + 1ml HCl 1M104Gelembung sedang + beruap
3Pita Mg + 1ml HCl 2M28Gelembung sedikit + beruap
4Pita Mg + 1ml HCl 3M11Gelembung sangat sedikit + tabung panas

Reaksi : Mg(s) + 2HCl(aq) ————– ► MgCl2(aq) + H2(g)

 

 

 

B. Faktor suhu pada terhadap reaksi

NoHClNa2S2O3T

(oC)

Waktu

(s)

Hasil Pengamatan
115ml15ml29170Berwarna putih susu + berbau
215ml15ml40122Berwarna putih susu + berbau
315ml15ml50107Berwarna putih susu + berbau
415ml15ml6052Berwarna putih susu + berbau

Na2S2O3(aq) + HCl(aq) ————— ► SO2(g) + S(s) + 2NaCl(aq) + H2O

 

 

 

C. Pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi

NoReaksiWaktu

(s)

Hasil Pengamatan
15 ml HCl 2M + bubuk marmer209Banyak gelembung + reaksi cepat
25ml       HCl       2M       +

bongkahan marmer

1572Sedikit gelembung + reaksi lambat

CaCO3(s) + 2HCl(aq) ————– ► CaCl2(s) + H2O(aq) + CO2(g)

 

 

 

D. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi

NoReaksiHasil Pengamatan
15 ml H2O2Sebagai control
25ml H2O2 + 4 tetes NaCl 0,1MGelembung banyak
35ml H2O2 + 4 tetes FeCl3 0,1MPada mulanya terbentuk 2 lapisan yaitu coklat tua dan bening. Lalu menyatu menjadi coklat muda. Selain itu keluar asap, mendidih, dan tabung reaksi menjadi panas.
2 H2O2(aq)     – FeCl3 -,           2H2O(0 + O2(g)

2 H2O2(aq) _ NaCl –                2H2O(l) + 02(g)

 

 

 

  • PEMBAHASAN

Pada praktukum kali ini telah dilakukan percobaan yaitu mengenai laju reaksi. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi laju reaksi diantaranya adalah konsentrasi, suhu, luas permukaan, dan katalis.

Pada percobaan pertama dilakukan pengamatan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi yaitu dilakukan dengan cara mereaksikan pita magnesium (Mg) dengan HCl yang konsentrasinya berbeda-beda. pada tabung 1 terdapat hcl 0,5M, pada tabung 2 terdapat HCl 1M, pada tabung 3 terdapat HCl 2M, dan pada tabung 4 terdapat HCl 3M. pada tabung 1 laju reaksi bejalan sangat lambat yaitu 234s, pada tabung kedua laju reaksi berjalan agak cepat yaitu 104s, pada tabung 3 laju reaksi berjalan cepat yaitu 28s, dan pada tabung 4 laju reaksi berjalan cepat yaitu 11s.

 

sudah terbukti bahwa semakin ditingkatkan konsentrasi hcl, maka laju reaksi semakin berjalan dengan cepat. hal ini membuktikan bahwa konsentrasi mempengaruhi laju reaksi. jika konsentrasi suatu zat semakin besar maka laju reaksinya semakin cepat dan begitupun sebaliknya semakin kecil konsentrasi suatu zat maka laju reaksi akan berjalan lambat. suatu larutan dengan konsentrasi tinggi akan lebih pekat dan mengandung partikel yang lebih rapat sehingga akan lebih sering bertumbukan. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa hasil pengamatan kami sesuai dengan teori dari laju reaksi yaitu semakin besar konsentrasi suatu larutan makan semakin cepat laju reaksi yang terjadi.

 

Pada percobaan kedua dilakukan percobaan pengaruh suhu terhadap laju reaksi. pencampuran hcl dengan Na2S2O3 yang berbeda-beda yaitu pada suhu ruangan 29oC dan suhu setelah dipanaskan yaitu pada suhu (40, 50, 60) oC. pada saat Na2S2O3 pada suhu 29 oC diperlukan waktu yag cukup lama sampai warna larutan berwarna putih susu yaitu 170s. ketika suhu dinaikan menjadi 40 oC waktu yag diperlukan lebih singkat yaitu 122s. kemudian suhu dinaikan lagi menjadi 50 oC waktu yang diperlukanpun lebih singkat lagi yaitu 107s. dan terakhir kita menaikan suhu menjadi 60 oC waktu yag diperlukan sangat singkat yaitu 52s.

 

hal ini terjadi karena suhu ikut berperan dalam mempengaruhi laju reaksi apabila suhu yag berlangsung pada suatu reaksi yang berlangsung dinaikan, maka menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan yang terjadi lebih sering terjadi, hal itu menyebabka laju reaksi semakin cepat. sebaliknya apabila suhu diturunkan, maka partikel semakin tidak aktif, sehingga laju reaksi semakin lambat. hal ini sesuai dengan teori laju reaksi yaitu semakin tinggi suhu, maka semakin cepat laju reaksi yang terjadi.

Pada percobaan ketiga dilakukan percobaan pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi. berdasarkan percobaan, batu marmer yang telah dihaluskan sebanyak 1 gram yang direaksikan dengan 5ml HCl 2M bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan bongkahan marmer sebanyak 1 gram yang direaksikan dengan 5ml HCl 2M. berdasarkan teori, bubuk zat padat biasanya menghasilkan reaksi yag lebih cepat dibandingkan dengan sebuah bongkahan zat padat dengan massa yang sama, karena bubuk zat padat memiliki luas permukaan yag lebih besar.

 

suatu zat akan bereaksi hanya jika zat tersebut bercampur dan terjadi tumbukan. tumbuka tersebut terjadi antara tumbukan luas permukaan bidang sentuh dari masing-masing molekul. semakin kecil ukuran partikel zat maka semakin luas permukaan suatu zat. jadi, semakin kecil ukuran partikel zat, maka reaksipun akan berlangsung cepat. hal ini sesuai dengan konsep laju rreaksi yaitu semakin besar luas permukaan, maka laju reaksi semakin cepat.

 

Pada percobaan terakhir yaitu pengamatan katalis dalam laju reaksi. kalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan dalam reaksi itu sendiri. suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. dalam percobaan kami menggunakan dua katalis yag berbeda, yaitu nac dan FeCl3. digunakan tiga tabung reaksi, tabung pertama berisi 5ml H2O2 dijadikan sebagai kontrol yang tidak diperlakukan apa-apa. pada tabung kedua yaitu 5ml H2O2 dan ditambahkan 4 tetes naclkemudian terbentuk gelembung dalam jumlah banyak dan tidak mengalami perubahan warna.

 

pada tabung ketiga yang berisi 5ml H2O2 yang kemusian ditambhakan 4 tetes FeCl3 reaksi terjadi secara perlahan-lahan, pada awalnya terbentuk dua lapisan yaitu berwarna coklat tua dan bening kemudian keluar asap da menguap, larutan mendidih dan permukaan tabung reaksi terasa panas, warna larutanpun mulai tercampur dan terbentuk satu warna yaitu coklat muda. dari hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa katalis yang cocok denga H2O2 adalah FeCl3. hal ini dapat terjadi karena sifat katalis seperti enzim, yaitu hanya bekerja pada senyawa tertentu. hasil pengamatan kami sesuai dengan konsep laju reaksi, yaitu katalis dapat mempengaruhi laju reaksi.

 


Contoh Soal

Pada reaksi pembentukan gas SO3 menurut reaksi: 2SO2(g) + O2(g) → 2SO3(g), sehingga diperoleh data sebagai berikut.

Tentukanlah:

a. Laju bertambahnya SO3
b. Laju berkurangnya SO2
c. Laju berkurangnya O2

Penyelesaian :

Diketahui :

Persamaan reaksi : 2SO2(g) + O2(g) → 2SO3(g)

Data konsentrasi (pada tabel).

Ditanyakan :

a. r SO3.
b. r SO2.
c. r O2.

Jawaban :

a. Δ[SO3] = [SO3]3 – [SO3]2 = 0,50 – 0,25 = 0,25 M
Δt = t3 – t2 = 40 – 20 = 20 s

Jadi, laju bertambahnya SO3 sebesar 1,25 x 10–2 M/s.

b. Karena koefisien SO2 = koefisien SO3, maka:
r SO2 = – r SO3 = – 0,0125 M/s

Jadi, laju berkurangnya SO2 sebesar –1,25 x 10–2 M/s

c. r O2 = – ½ x r SO3 = – ½ x 0,0125 = – 0,00625 M/s

Jadi, laju berkurangnya O2 sebesar – 6,25 x 10–3 M/s


 

Itulah ulasan tentang Laju Reaksi : Pengertian, Faktor Yang Mempengaruhi, Dan Rumus Beserta Contoh Soalnya Lengkap Semoga apa yang diulas diatas bermanfaat bagi pembaca. Sekian dan terimakasih.

 

Baca juga refrensi artikel terkait lainnya disini :



Laju Reaksi : Pengertian, Rumus, Contoh Soal Dan Faktor Yang Mempengaruhi
Laju Reaksi Rumus Contoh Soal

Article Title: Laju Reaksi : Pengertian, Rumus, Contoh Soal Dan Faktor Yang Mempengaruhi

Short Description: Laju Reaksi : Pengertian, Faktor Yang Mempengaruhi, Dan Rumus Beserta Contoh Soalnya Lengkap - Tahukah anda apa yang dimaksud dengan laju reaksi ? Jika anda

Author: GuruPendidikan

Publisher - Orgnization: GuruPendidikan.Com

Publisher Logo: gurupendidikan

  • Rating On Google :
5