Contoh Naskah Drama 4 Orang

Diposting pada

Contoh Naskah Drama 4 Orang Wanita Tentang Persahabatan

Judul: Kepedulian Seorang Sahabat
Tema: Sosial & Persahabatan
Alur: Pendek
Pemeran: 4 orang
Penokohan: 
Dina: Patuh pada perintah orangtua
Winda: Sosok sahabat yang baik
Astrid: Sosok sahabat yang peduli terhadap teman
Hesti: Adik Astrid

contoh-naskah-drama-4-orang

Sinopsis Drama

Dina diminta ibunya untuk mengantarkan barang titipan tantenya. Dina meminta Winda untuk menemaninya kerumah tantenya. Ditengah perjalanan, motor Dina bannya kempes dan tidak ada bengkel disekitar jalan yang mereka lewati. Secara kebetulan, Astrid dan Hesti melihat mereka saat sedang mendorong motor. Astrid pun memberikan pertolongan kepada Winda dan Dina dengan cara mendorong motor secara bergantian hingga sampai disebuah bengkel.

Dialog Drama

Dina:
Win, besok pagi kan libur sekolah.. kamu ada waktu nggak untuk nemenin aku ke rumah tanteku?

Winda:
Besok? aku belum tahu ya.. emangnya kamu ada perlu apa kerumah tante kamu?

Dina:
Aku disuruh ibuku nganterin barang titipan tanteku.

Winda:
Emangnya barang apa?

Dina:
Aku belum tahu. Entah apa barangnya. Gimana, kamu besok bisa apa nggak?

Winda sebenarnya ada acara sendiri, namun dia sulit menolak permintaan Dina.

Winda:
Ya sudah deh, besok aku anterin kamu. Jam berapa besok? aku kerumah kamu atau kamu yang kerumahku?

Dina:
Terserah kamu deh, jam 8 atau jam 9 gitu.. kalau kamu mau mending kamu aja yang kerumah aku.

Winda:
Ya sudah, besok jam 8.30 aku kerumah kamu, terus kita langsung kerumah tante kamu.

Keesokan harinya Winda dan Dina berangkat menuju rumah tante si Dina yang jaraknya sekitar 20 km dari rumah Dina. Pas ditengah-tengah jalan moto yang dikendarai Dina bannya bocor, dan tidak ada tempat penambalan ban disekitar situ.

Dhussss… bunyi ban motor Dina

Dina:
Aduh.. gimana nih, bannya bocor? kayaknya pecah nih ban!

Winda:
Gimana ya.. nggak ada bengkel tambal ban  lagi disini.

Mereka bedua pun mendorong motor tersebut sambil keringat membasahi tubuh mereka. Setelah hampir 30 menit mendorong motor, tiba-tiba ada sebuah mobil box yang menghampiri mereka. Pengendara mobil box itu menawarkan jasa pengangkutan motor hingag ke bengkel tedekat kepada Dina.

Sopir mobil box:
Kenapa non? bannya bocor ya?

Dina:
Iya. bisa minta tolong angkutin motor aku sampai bengkel nggak?

Sopir mobil box:
bisa saja, tapi kasih ongkos 100 ribu ya?

Dina:
Kok mahal amat, bang? 50 ribu ya?

Sopir mobil box itu menolak, alhasil Dina dan Winda harus meneruskan mendorong motor mereka.

Sopir mobil box:
Murah amat non.. ya sudah kalau nggak mau.

Setelah mendorong moto selama 45 menit, tiba-tiba ada salah seorang sahabat Winda, yaitu Astrid yang kebetulan lewat di jalan itu. Astrid bersama adiknya bernama Hesti.

Astrid:
Stop.. stop, hes…

Hesti:
Kenapa kak? ada apa?

Astrid:
Itu kayknya Winda deh.. Win… Win…

Winda:
Eh itu Astrid..

Astrid:
Motor kamu bocor bannya? kasihan sekali.. kamu mau kemana nih?

Winda:
Nih aku mau nganterin Dina kerumah tantenya. Nggak tahu nih, bengkel kayaknya masih jauh.. aku udah capek banget dorong motor dari tadi.

Astrid berusaha memberi pertolongan kepada sahabatnya itu, namun dia juga tidak bisa berbuat banyak karena disekitar itu memang cukup sepi.

Astrid:
Aduh.. gimana ya.. ok, gini aja.. kalian kan sudah capek banget nih. Sekarang biar aku yang dorong moto kamu, terus kamu bawa motor aku sambil ngikutin dari belakang.

Winda:
Emang kamu nggak kecapekan entar? berat lo dorong motor ini..

Astrid:
Ya tentu saja kau bakal capek, makanya kita gantian gitu..

Motor tersebut didorong oleh mereka berempat secara bergantian hingga akhirnya mereka tiba diasalah satu bengkel tambal ban.

Pesan sosial dari drama diatas adalah tentang kepedulian seorang sahabat. Jika ada sahabat kita yang sedang dalam masalah atau kesulitan, maka kita harus menolongnya.

Contoh Naskah Drama singkat 4 orang Tentang Kejujuran

JUDUL           : KEJUJURAN

PEMAIN        : Guru, Rara, Reni, Rina

Dalam suasana belajar mengajar di dalam kelas dan sedang dilakukan ulangan mendadak serta mengumpulkan tugas.

Guru                      : Anak – anak, silakan dikumpulkan tugas karya tulis minggu kemarin.

 (kemudian satu persatu siswa naik mengumpulkan tugas karya tulis masing-masing)

Guru                      : Karena ini merupakan tugas perorangan, maka penilian akan dilakukan berdasarkan isi dari karya tulis kalian. Oke, masukkan  buku kalian semua. Bapak akan mengadakan ulangan.

Reni                       : Hah, ulangan apa lagi pak? baru saja 2 hari yang lalu diadakan ulangan

Guru                      : Rara, tolong dibagikan kertas folio ini ke semua siswa.

Rara                       : baik paK

 (sambil berjalan membagikan kertas folio. Suasana ruang kelas berubah menjadi gaduh karena setiap siswa mengeluh tentang diadakannya ulangan mendadak ini)

Guru                      : pada ulangan kali ini, bapak ingin kalian menulis ulang pokok-pokok dan kesimpulan dari karya tulis yang kalian buat.

(kemudian siswa hening dan sibuk mengerjakan ulangan. Sedangkan pak guru sibuk memeriksa tugas karya tulis yang tadi dikumpulkan. pak guru menemukan keanehan pada tugas karya tulis milik Rara dimana isinya sama persis dengan karya tulis milik Rina. Setelah 20 menit berlalu, kemudian kertas ulangan dikumpulKAN.

Guru                      : baiklah yang lain bisa istirahat. Tolong Rara dan Rina tetap disini, bapak mau bicara.

(semua siswa keluar ruang kelas kecuali Rara dan Rina)

Guru                      : bapak minta kalian berdua jujur kepada bapak. Kenapa  tugas kalian bisa sama persis, bahkan titik dan komanya juga.

Rara                       : saya mengerjakan karya tulis itu sendiri pak

Rina                       : saya juga mengerjakan karya tulis saya sendiri

Guru                      : Lalu, Mengapa isi dari jawaban ulangan kalian tadi tidak sama dengan isi karya tulis kalian?

(lama Rara dan Rina terdiam, takut-takut untuk memulai bercara)

Guru                      : kalau begitu, bapak anggap kalian tidak mengerjakan tugas karya tulis dan tidak mengikuti ulangan tadi.

Rina                       : maaf pak. Kalau saya jujur, apakah kalau saya berkata jujur maka bapak  akan memaafkan saya?

Guru                      : tentu.

Rina                       : saya mendapatkan materi untuk tugas karya tulis dari internet pak. Saya langsung copy paste dan tidak saya baca lagi. Itulah mengapa ulangan tadi tidak sama dengan isi karya tulis saya

Guru                      : baiklah, alasan bisa bapak terima.  trus kamu Rara?

Rara                       : saya minta tolong Reni mengerjakan tugas karya tulis itu pak. Dan kelihatannya dia mencari sumber dari internet.

Guru                      : kalau begitu tolong panggilkan Reni

Rara                       : baik pa

(Rara pun keluar memanggil Reni

Reni                       : bapak memanggil saya ?

Guru                      : iya, bapak ingin bertanya, apa benar murid 1 minta tolong pada kamu untuk mengerjakan tugasnya ???

Reni            : iya pak, maafkan saya pak. Rara bilang dia tidak mengerti tugas dari bapak terlebih dia bilang dia tidak bisa mencari tugas tersebut dari internet karena dia tidak punya uang untuk ke warnet

Guru                      : Baiklah kalau begitu. Tugas karya tulis dan ulangan kalian bapak kembalikan. kalian harus membuat karya tulis lagi dan dikumpulkan dalam 3 hari.

Rara dan Rina    : baik pak

Contoh Naskah Drama 4 Orang Singkat tentang persahabatan di sekolah

Naskah Drama 4 Orang
Tema : Persahabatan / Friendship
Karakter : Cerie, Coki, Cinderella, Canera

Sebuah kisah yang terjadi disebuah sekolahan yang sangat terkenal bernama Growpee High School. Disana tedapat sebuah persahabatan yang bernama The Friend, beranggotakan tiga pelajar populer yang bernama Coki, Cerie, dan Canera.

Pada suatu ketika seorang anak bernama Cinderella yang dari dulu ingin gabung ke dalam anggota The Friend akhirnya memberanikan diri untuk bertanya agar bisa masuk anggota The Friend.

Cinderella   : “Hey The Sobat !”
Tapi mereka asyik sendiri sampai tidak menghiraukan Cinderella.
Cinderella   : “Hey!! Pada ngebincangin apa’an sih?”
Coki  : “Eh, siapa sih ni anak? Kepo banget deh!”
Canera  : “Ya nih, sok kenal banget!”
Cerie : “Udah deh, dia kan cuma nanya.”
Cinderella   : “Jika ga mau jawab juga gapapa kok. Saya cuma ingin nanya boleh ga sih saya gabung ke The Friend?”
The Friend : “WHAATTTT??!!!!!”

Coki  : “Gue ga salah denger nih?”
Canera  : “Ngaca dong! Lo ga punya cermin ya di rumah? Ih kasian banget deh!”
Cerie : “Maaf ya, kita ga ngadain open audition.”
Akhirnya Cinderella pergi meninggalkan The Friend dengan hati yang amat sangat terluka. Dia pergi menyendiri dengan keinginan balas dendam.
Cinderella   : “Liat aja nanti. Gue pasti bakal ngehancurin The Friend!”

Keesokan harinya, Cinderella datang pagi sekali, di dalam kelas dia hanya bertemu Cerie. Dan kemudian dia mulai menjalankan rencana jahatnya.
Cinderella   : “Hey Cerie. Maaf ya kemarin saya ga bermasud bikin kalian marah.”
Cerie : “Ya gapapa kok. Kemarin kita juga yang kelewatan.”
Cinderella   : “Cerie, kamu kemarin pulang sendiri?”
Cerie : “Ya, emang kenapa?”

Cinderella   : “Kemarin saya lihat cowokmu pulang bareng Canera.”
Cerie : “APA???!! Lo ga salah lihat Cinderella?”
Cinderella   : “Saya pertamanya sih juga ga percaya. Tapi saya lihat-lihat emang bener.”
Cerie langsung meninggalkan kelas dengan kesal.
Cinderella   : “Game on!”
Cinderella tersenyum licik dan mengikuti Cerie dari belakang. Lalu Cerie bertemu dengan Canera.
Canera  : “Hei  Cerie!”
Cerie : “Maksud lo tu apa? Lo mau nusuk gue dari belakang? Dasar pengkhianat!!”

Canera  : “Lo ngebincangin apa’an sih? Tiba-tiba marah-marah ga jelas.”
Cerie : “Ternyata lo deketin gue biar bisa ngerebut cowok gue gitu?”
Canera  : “Ha? Gua ga ada niat sedikit pun untuk ngerebut cowok lo. Kaya ga ada cowok yang lain aja.”
Cerie : “Alah, ga usah alasan deh! Gue bener-bener ga nyangka!”
Kemudian Cerie pergi meninggalkan Canera dengan tatapan sinis. Di belakang, Cinderella melihat kejadian itu dan tersenyum licik.
Cinderella   : “Yess!! Rencana gue berhasil!”

Sepulang sekolah, Canera pergi ke rumah Coki.
Coki  : “Hey Canera, sendirian aja? Tumben banget Cerie ga ikut?”
Canera  : “Dia lagi ngambek tuh.”
Coki  : “Ngambek kenapa?”
Canera  : “Tau deh, tiba-tiba dia marah-marah sambil fitnah gue ngerebut cowoknya.”
Coki  : “Kok bisa? Emang dia tau dari siapa?”
Canera  : “Tau ah, males ngebincangin dia.”

Keesokan harinya, Coki dan Canera bertemu Cerie di kelas.
Canera  : “ Hei Cerie, kenapa sih kemarin lo marah-marah ga jelas?”
Tetapi Cerie, tidak menghiraukan Canera dan langsung keluar dari kelas. Coki menyusul Cerie dan menghentikan dia.
Coki : “Cerie, tunggu! Lo kenapa sih? Kok tiba-tiba ngambek gitu?”
Cerie : “Lo tau ga sih? Si Canera tu ternyata bermuka dua! Ati-ati aja deh sama dia, dia ngedeketin kita, Cuma buat manfa’atin kita doing.”
Coki  : “Emang Canera kenapa? Perasaan kemarin lusa biasa aja, kenapa tiba-tiba dari kemarin lo jadi kaya gini?”

Cerie : “Masa sih, kemarin dia pulang bareng cowok gue coba. Ga punya perasaan banget deh tu anak.”
Coki  : “Ha? Lo kata siapa?”
Cerie : “Cinderella yang kasih tau gue, katanya kemarin dia lihat langsung.”
Coki  : “Terus lo percaya gitu aja? Asal lo tau aja ya, kemarin tu gue ga dijemput, jadinya pulang bareng Canera.”
Cerie : “Apa? Tapi Cinderella bilang…”
Coki  : “Jadi, lo lebih percaya Cinderella yang tiba-tiba muncul dan ingin masuk geng kita daripada sama sahabat lo sendiri yang udah dekat dari dulu?”
Cerie : “Jadi, Cinderella udah bo’ongin gue gitu?”

Coki  : “Nah, tu tau.”
Cerie : “Sialan, udah dibaik-baikin malah ngelunjak tu anak.”
Kemudian, Cerie dan Coki pergi ke kelas menemui Cinderella.
Cerie : “Cinderella!! Maksud lo tu apa fitnah Canera kaya gitu?”
Cinderella   : “Fitnah apa’an sih? Kamu ngebincangin apa?”
Cerie : “Alah, ga usah ngeles deh!”
Canera  : “Ada apa’an sih? Kok ribut?” (Sambil menghampiri Cerie, Coki dan Cinderella).
Coki  : “Canera, lo tau ga? Sebenernya, yang ngefitnah lo tu ternyata si Cinderella.”

Canera  : “Apa? Gue punya salah apa sih sama elo Cinderella? Lo sakit hati gara-gara gue marahin waktu itu?”
Cinderella hanya terdiam, mukanya terlihat jengkel tetapi tidak mau mengatakannya.
Coki  : “Lo beneran marah Cinderella? Maaf banget deh, kita ga bermaksud nyakitin hati lo.”
Cerie : “Jika lo marah bilang dong. Ga usah pake acara ngefitnah orang segala.”
Canera  : “Cerie udah, dia kaya gitu kan karena kita juga yang salah.”
Cinderella   : “Maaf ya, saya cuma iri liat kalian yang selalu bareng, sedangkan saya ga punya temen.”
Coki  : “Cinderella, harusnya lo bilang dong yang sebenernya, mungkin kita bisa ngerti.”

Cinderella   : “Kalian ga salah kok. Saya nya aja yang kelewatan. Ga seharusnya saya bikin kalian berantem.”
Cerie : “Makanya, jika mau berbuat sesuatu tu dipikir dulu! Sekarang lo minta ma’af sama Canera!”
Cinderella   : “Canera, ma’afin saya ya? Saya…”
Canera : “Ya Cinderella, saya ma’afin. Asal jangan diulangi aja.”
Cinderella   : “Coki, Cerie, ma’afin saya juga ya? Saya emang salah.”
Cerie : “Bagus deh jika lo nyadar.”
Coki  : “Cerie, udah dong. Dia kan udah minta ma’af. Malahan harusnya kita minta ma’af juga ke dia.”
Cerie : “Ih, ngapain? Orang dia yang salah kok.”

Canera  : “Gimana pun juga, kita juga udah kelewatan memperlsayakan dia kayak gitu.”
Cerie : “Ya deh, ma’afin kita ya Cinderella?”
Cinderella   : “Ya, ma’afin saya juga ya?”
Coki  : “Lo masih mau kan gabung sama The Friend?”
Cinderella   : “Gausah deh, entar jika ada saya, kalian malah berantem terus.”
Canera  : “Gak lah, asalkan kamu mau jujur sama kita, kita juga bakal jujur sama kamu.”
Cerie : “So?”
Cinderella   : “Ya deh, saya mau. Thanks ya guys. Kalian baik banget sama saya.”
Coki  : “Ya! The Friend Forever!!”

Contoh Naskah Drama 4 Orang Remaja Perempuan

Judul : Penampilan Tidak Bisa Membeli Cinta
Tema : Remaja
Jumlah Pemeran : 4 orang
Penokohan : (1) Norah (perempuan stylish) (2) Andin (perempuan sederhana) (3) Linda (perempuan stylish) (4) Robi (Lelaki penuh ketulusan)

Norah :
Penampilan kamu kok payah banget sih?

Andin :
Payah menurut kamu? kayaknya biasa-biasa aja deh.

Linda :
Iya Ndin, penampilan kamu emang terlihat payah banget kok.

Andin :
La terus aku harus tampil gimana menurut kalian?

Norah :
Ya.. setidaknya baju yang kamu pakai jangan begituan dong! malu-maluin tahu nggak?!

Andin :
Kalian ini pada serius ya? ato jangan-jangan cuman mau ngisengin gue? sepertinya penampilanku simple dan nggak bermasalah kaya yang kalian bilang.

Linda :
Kamu salah Ndin.. kamu tu kan masih muda, masa pilih baju cocoknya untuk ibu-ibu gitu? ntar cowok kamu malah jadi ogah lagi sama kamu.

Norah :
Betul itu! cowok kan juga perhatian sama fashion ceweknya. Kalau gaya berdandan kamu kaya gitu jangan nyesel ya nanti kalau Robi negjauhin kamu.

Andin :
Ya.. kalian ini ada-ada aja deh! ngasih masukan sih ngasih masukan, tapi jangan ampe segitunya dong.. masa ampe harus kehilangan cowok gue lagi.

Linda :
La emang bener Ndin.. kami ni kan cuman pengen kamu tu terlihat cantik dan bisa bikin cowok kamu ngerasa pede pas jalan sama kamu. Nah, kalau fashion kamu kayak gini bahaya dong…

Norah :
Bener tu apa yang Linda bilang.

Linda pun dibuat terdian oleh kedua teman dekanya itu. Linda bengong dalam beberapa detik, kemudian dia mereaksi pernyataan kedua temannya itu.

Andin :
Kalau gitu gue harus bagaimana nih? gimana gue harus memperbaiki gaya berdandan gue?

Tiba-tiba Robi datang dan menghampiri mereka bertiga. Robi sendirian dan penampilan kekasih Andin memukau Linda dan Norah.

Robi :
Eh.. ladies lagi pada ngapain kok kayaknya serius banget ngobrolnya?

Linda :
Nggak ada kok… ya biasa ngerumpi sesama cewek. Kamu abis darimana Bi?

Robi :
Tadi abis nganterin temen gue, terus lihat kalain disini ya sekalian aja gue gabung. Nggak papa kan cowok sendirian?

Norah :
Ya nggak papa dong! Btw, mau gabung ngerumpi sama kami atau mau ngerumpi sama Andin nih?

Saut Norah dengan mimik bercanda kepada Robi yang sangat khas dengan senyum manisnya itu. Andin pun tanpa segan memeritahu isi obrolan mereka kepada Robi.

Andin :
Bi, aku mau nanya sama kamu. Jawab dengan jujur ya?

Robi :
Mau nanya apa sepertinya serius amat? emang selama ini aku penah bohong sama kamu? mau nanya apa?

Andin :
Penampilanku payah banget ya?

Mendengar Andin mengajukan pertanyaan itu kepada Robi, Linda pun sangat terkejut dan kemudian coba mengalihkan perhatian Robi.

Linda :
Apaan sih kamu Andin? jangan dengarkan dia Bi, si Andin nih kadang-kadang ngomongnya memang sering ngelantur.

Andin :
Kok nggak dijawab Bi?

Linda : Apaan sih mau Ndin?

Robi :
Begini, selama ini gue selalu jujur sama kamu Ndin. Kalu kamu tanya apakah penampilanku payah, jawabannya penampilan kamu emang nggak sebagus Linda dan Norah. Tapi, aku nggak pernah menjadikan itu sebagai masalah, karena siapapun kamu, bagaimanapun kamu aku tetap suka kamu.

Andin, Linda dan Norah terdiam sejenak mendengarkan penjelasan dari Robi yang ternyata selama ini juga menyadari bahwa penampilan Andin memang dinilainya bermasalah, namun ternyata Robi tetap sepenuhnya mencintai Andin.

Andin pun mengucapkan sebuah kata kepada kekasihnya itu

Andin :
Bi, aku sayang banget sama kamu. Tapi, kamu juga berhak untuk melihat aku seperti yang kamu mau selagi itu bisa aku lakuin. Kalau kamu kurang suka dengan penampilan aku, kamu bisa menasehati aku supaya aku bisa berpenampilan lebih baik lagi.

Robi :
Ya, lain kali aku akan ngomong. Dan tadi aku juga sudah bilang ke kamu bahwa penampilan kamu dimata orang lain dan juga dimata aku tidak menjadi tolak ukur seberapa besar aku sayang sama kamu.

Suasana pun terus diselimuti kedamaian, cinta, dan kebahagiaan. Kedua teman Andin, yaitu Linda dan Norah hanya dapat tercengang mendengarkan Andin dan Robi saling berkata sebuah kejujuran dan tulusnya cinta mereka.

CONTOH NASKAH DRAMA Singkat 4 ORANG Tema PERSAHABATAN

Judul: Nasehat Dari Sahabat
Tema: Sosial (persahabatan)
Jumlah pemeran: 4 orang
Karakter:
Ani: Baik (suka menasehati)
Nani: Baik (suka dengan kebaikan)
Jordi: Jahat (suka menjahili orang)
Dendi: Baik (suka menegur temannya ketika salah)

Alur Drama
Pada pagi hari itu tepatnya di depan rumah Ani, Nani, Jordi dan Dendi sedang berkumpul. Tidak lama kemudian si Ani keluar dari rumahnya mendengar ketiga temannya itu sedang ngobrol didepan halaman rumahnya.

Naskah Dialog Drama

Ani:
Hai, ada apa ini? Kok tumben kalian pada gerumpi didepan rumah akau..  nggak manggil aku lagi?!
Nani:
Aku tadinya sih mau manggil kamu, tapi kamunya aja yang sudah keburu nongol. Nggak ada acara kamu hari ini, An?
Ani:
Nggak ada tuh.. emang mau ngajak kemana kok kayaknya mau ngajak aku jalan gitu?

Nani:
Nggak kok, aku cuman nanya aja.. ya, sapa tahu aja kamu mau kemana gitu, kan biasanya kamu padat acara.
Ani:
Nggak ada kok, hari ini aku stay dirumah aja.

Tiba-tiba Jordi menyampaikan idenya kepada teman-temannya untuk ngejahilin Lela yang biasanya lewat didepan rumah Ani.
Jordi:

Eh teman-teman, aku ada ide nih!

Dendi:
Ide apaan tu?

Jordi:
Bisanya jam sgini kan Lela pasti lewat sini, gimana kalau kita kerjain dia. Setuju nggak kalian?

Dendi:
Ngerjain Lela?! Ah.. kamu ini jahat amat sih jadi orang!

Ani:
Iya tuh.. kenapa sih dari dulu kamu tuh nggak pernah berubah, Di. Dari dulu kerjaannya pengen ngejahilin orang terus!

Jordi:
Biarin.. kan itu emang hobiku.

Nani berusaha untuk menyadarkan Jordi yang diusianya sudah menginjak 17 tahun, tapi sikapnya masih saja seperti anak-anak.

Nani:
Jordi, kamu tu kan udah dewasa, mestinya tabiat buruk yang selama ini melekat pada diri kamu itu sudah beransur menghilang, ini nggak malah sepertinya makin menjadi.

Ani:
Tuh.. dengerin kata si Nani, harusnya kamu tuh bisa bersikap lebih dewasa, dan kebiasaan kamu yang suka ngejahilin orang itu sedikit demi sedikut harus kamu hilangin.

Karena Jordi anaknya memang keras kepala dan suka menganggu orang lain, maka dia tidak mengedahkan nasehat teman-temannya.

Jordi:
Ah,,, masa bodoh kalian!

Melihat sikap si Jordi yang tidak juga sadar diri tentang kebiasaan buruknya, Dendi pun berusaha menyadarkan Jordi.

Dendi:
Iseng itu emang boleh aja sih, Jordi. Tapi, kalau berlebihan kan nggak baik juga. Lela tu anaknya baik dan pendiam, terus kenapa tega amat kamu mau ngerjain dia. Emang salah dia apa?

Ani:
Bener banget apa yang Dendi bilang. Justru kalau aku pas ngelihat Lela itu yang ada dihati ini malah rasa hiba.

Jordi:
Iba? Emang kenapa kok harus ngerasa iba?

Ani:
Lela itu kan sudah nggak punya Ibu. Dia sehar-hari menghabiskan waktunya untuk membantu ayahnya dagangan di pasar.

Jordi baru tahu kalau ternyata Lela sudah tidak memiliki ibu. Mendengar kabar tersebut, keinginan Jordi untuk menjahili Lela pun pupus.

Jordi:
Oh.. begitu ya.. kasihan ya si Lela! Ya sudah deh, aku janji nggak bakalan ngejahilin atau ngerjain Lela lagi.

Nani:
Bagus itu, tapi jangan hanya sama Lela dong! Sama siapapun kamu nggak boleh bersikap jahil. Itu kan perbuatan dosa.

Ani:
Bener itu!

Jordi:
Ah.. kalian dikit-dikit dosa!

Semenjak itu, Jordi sudah tidak pernah menganggu Lela lagi, namun perangai buruknya masih saja tidak berubah. Jordi sering membuat onar dikampungnya dan juga disekolahan.

Contoh Naskah Drama 4 Orang Komedi Lucu Panjang

Contoh-Naskah-Drama-4-Orang-Komedi-Lucu-Singkat

Drama Komedi Satu Babak

Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero

Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono

© 2006

P a g i   B e n i n g

( Drama Komedi Satu Babak dari tanah Spanyol )

Karya Serafin dan Joaquin Alvarez Quintero

Terjemahan Drs. Sapardi Joko Damono

T e m p a t   K e j a d i a n

Madrid – Spanyol

Di suatu tempat – Taman terbuka

Di jaman ini juga

P e m a i n

Donna Laura

Wanita tua,  berumur kira-kira 70 tahun

Masih nampak jelas bahwa dulunya cantik dan tindak tanduknya menunjukkan bahwa mentalnya juga baik.

Don Gonzalo

Lelaki tua, berumur kira-kira 70 tahun lebih

Agak congkak dan selalu tampak tidak sabaran

Petra

Gadis pembantu Laura

Juanito

Pemuda pembantu Gonzalo

( DONNA LAURA MASUK, BERPEGANGAN TANGAN PADA PETRA. TANGANNYA YAN LAIN MEMBAWA PAYUNG YANG JUGA UNTUK TONGKATNYA )

LAURA          :     Aku selalu merasa gembira sekali di sini. Syukur bangkuku tidak ditempati orang lain. Duhai, pagi yang cerah! Cerah sekali.

PETRA          :     Tapi matahari agak panas, Senora.

LAURA          :     Ya, kau masih duapuluh tahun (ia duduk di bangku belakang). Aku merasa lebih letih dari biasanya (melihat petra yang nampak tak sabaR), pergilah kalau kau ingin ngobrol dengan tukang kebunmu itu!

PETRA          :     Dia bukan tukang kebunku, Senora, dia tukang kebun taman ini!

LAURA          :     Ia lebih tepat disebut milikmu daripada milik taman ini. Cari saja dia. Tapi jangan sampai terlalu jauh hingga tak kau dengar panggilanku.

PETRA          :     Saya sudah melihatnya di sana, menanti.

LAURA          :     Pergilah, tapi jangan lebih dari sepuluh menit!

PETRA          :     Baik, Senora (berjalan ke kanan)

LAURA          :     Hei, nanti dulu!

PETRA          :     Ada apa lagi, Senora?

LAURA          :     Berikan remah-remah roti itu!

PETRA          :     Ah, pelupa benar aku ini!

LAURA          :     (senyum) Aku tahu! Pikiranmu sudah lekat ke sana, heh, si tukang kebun itu!

PETRA          :     Ini, Senora (mengeluarkan bungkusan roti. Keluar ke kanan)

LAURA          :           Adios! (memandang ke arah pepohonan). Ha, mereka datang. Mereka tahu kapan mesti datang menemui aku (bangkit dan menyerahkan remah-remah roti). Ini buat yang putih, ini untuk yang coklat, dan ini untuk yang paling kecil tapi kenes. (tertawa dan duduk lagi memandang merpati yang sedang makan). Ah, merpati-merpati yang manis. Itu yang besar mesti lebih dulu, kentara dari kepalanya yang besar, dan itu … aduh , kenes benar. Hai, yang satu itu selesai mematuk terus terbang ke dahan. Bersunyi diri. Agaknya

ia suka berfilsafat. Tapi dari mana saja mereka ini datang? Seperti kabar angin saja! Meluas dengan mudah. Ha, ha, jangan bertengkar. Masih banyak. Besok kubawakan yang lebih banyak lagi!

(don gonzalo dan juanito masuk dari kiri. Gonzalo bergantung sedikit pada juanito. Kakinya bengkak, agak di seret)

GONZALO    :     Membuang-buang waktu melulu! Mereka itu suka benar bicara yang bukan-bukan.

JUANITO      :     Duduk di sini sajalah, senior. Hanya ada seorang wanita.

(dona laura menengok dan mendengarkan)

GONZALO    :     Tidak, Juanito. Aku mau tersendiri.

JUANITO      :     Tapi tak ada .

GONZALO    :     Yang di sana itu kan milikku!

JUANITO      :     Tiga orang pendeta duduk di sana, Senior!

GONZALO    :     Singkirkan saja mereka! … … … Sudah pergi!

JUANITO      :     Tentu saja belum! Mereka tengah bercakap-cakap.

GONZALO    :     Seperti merekat pada bangku saja mereka itu! Heh, tak ada harapan lagi, Juanito. Mari!

JUANITO      :     (menggandeng ke arah merpati-merpati)

LAURA          :     (marah). Awas hati-hati!

GONZALO    :     Apa Senora berbicara dengan saya?

LAURA          :     Ya, dengan tuan!

GONZALO    :     Ada apa?

LAURA          :     Tuan menakut-nakuti burung-burung merpati saya!

GONZALO    :     Peduli apa burung-burung itu!

LAURA          :     Apa, ha?

GONZALO    :     Ini taman umum, Senora!

LAURA          :     Tapi kenapa tadi tuan mengutuki pendeta-pendeta di sana itu?

GONZALO    :     Senora, tapi kita belum pernah jumpa! Dan kenapa tadi Senora menegur saya? Ayo, juanito! (melangkah ke kanan)

LAURA          :     Buruk amat perangai si tuan itu! Kenapa orang mesti jadi tolol dan pandir kalau sudah meningkat tua? (melihat ke kanan). Syukur. Ia tidak mendapat bangku! Itu, orang yang menakut-nakuti merpati-merpatiku. Ha, ia marah-marah. Ya, ayo, carilah bangku kalau kau dapat! Aduh, kasihan, ia menyeka keringat di dahi. Nah, itu dia kemari lagi. Debu-debu mengepul seperti kereta lewat! (juanito dan gonzalo masuk)

GONZALO    :     Apa sudah pergi pendeta-pendeta yang ngobrol itu, Juan?

JUANITO      :     Tentu saja belum, Senior?

GONZALO    :     Walikota seharusnya lebih banyak menaruh bangku-bangku di sini! Terpaksa juga aku kini duduk bersama wanita tua itu!

(ia duduk di ujung bangku,memandang dengan iri kepada laura, dan memberi hormat dengan mengangkat topi). Selamat pagi.

LAURA          :     Jadi tuan di sini lagi?

GONZALO    :     Ku ulang lagi, kita kan belum pernah jumpa!

LAURA          :     Saya toh cuma membalas salam tuan!

GONZALO    :     “Selamat Pagi”, mestinya cukup dibalas dengan “selamat pagi” saja.

LAURA          :     Tapi tuan seharusnya juga minta ijin untuk duduk di bangku saya ini.

GONZALO    :     Ahai, bangku ini kan milik umum!

LAURA          :     Kenapa bangku yang di san itu juga tuan katakan milik tuan, hah?

GONZALO    :     Baik, baik! Sekian sajalah!

( pada dirinya sendiri ) Dasar perempuan tua! Patutnya dia di rumah saja, merenda atau menghitung tasbih.

LAURA          :     Jangan mengoceh lagi. Aku juga tokh, tak akan pergi untuk sekedar menyenangkan hatimu!

GONZALO    :     (mengelap sepatunya dengan sapu tangan). Kalau disiram air sedikit tentu lebih baik. Tak berdebu lagi jadinya taman ini.

LAURA          :     Apa tuan biasa menggunakan saputangan sebagai lap?

GONZALO    :     Kenapa tidak?!

LAURA          :     Apa tuan juga menggunakan lap sebagai sapu tangan?

GONZALO    :     Hah? Nyonya kan tak punya hak untuk mengeritik saya!

LAURA          :     Toh sekarang saya ini tetangga tuan!

GONZALO    :     Juanito! Buku! Bosan mendengarkan nonsense macam itu!

LAURA          :     Alangkah sopan santun tuan ini!

GONZALO    :     Maaf saja nyonya. Tapi saya mengharap nyonya tidak bernapsu campur tangan urusan orang lain!

LAURA          :     Saya memang biasa melahirkan pikiran-pikiran saya.

GONZALO    :     Hhh, Juanito! Buku!

JUANITO      :     Ini, tuan! (mengambil buku dari kantong, don gonzalo memandang dengki pada laura; gonzalo mengeluarkan kaca pembesar dan kacamata: membuka buku)

LAURA          :     Oh, saya kira tuan mengeluarkan teleskop.

GONZALO    :     Nyonya bicara lagi!

LAURA          :     Tentunya penglihatan tuan masih baik sekali!!

GONZALO    :     Jauh lebih baik dari penglihatan nyonya!

LAURA          :     Ahai, tentu saja!

GONZALO    :     Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada kelinci-kelinci dan burung-burung.

LAURA          :     Artinya tuan suka berburu kelinci dan burung?

GONZALO    :     Saya pemburu memang. Dan sekarang pun saya tengah berburu.

LAURA          :     Ya, tentunya! Begitulah!

GONZALO    :     Ya, Senora. Tiap Minggu saya menyandang bedil bersama anjing saya pergi ke Arazaca. Iseng-iseng berburu! Membunuh waktu!

LAURA          :     Ya, membunuh waktu! Apa hanya waktu saja bisa tuan bunuh?

GONZALO    :     Nyonya kira begitu? Saya bisa menunjukkan kepala beruang besar dikamar saya!

LAURA          :     Dan saya juga bisa menunjukkan kepala singa di kamar tamu saya, meskipun saya bukan pemburu!

GONZALO    :     Sudahlah nyonya, sudah! Saya mau membaca. Percakapan cukup! Ngomong putus!

LAURA          :     Ha, tuan menyerah!

GONZALO    :     Tapi saya mau ambil obat bersin dulu. (mengambil tempat obat). Nyonya mau? (memberikan obat  itu)

LAURA          :     Kalau cocok!

GONZALO    :     Ini nomor satu! Nyonya tentu akan suka!

LAURA          :     Memang biasanya akan menghilangkan pusing.

GONZALO    :     Saya pun begitu.

LAURA          :     Tuan suka bersin?

GONZALO    :     Ya tiga kali.

LAURA          :     Persis sama dengan saya! (setelah mengambil bubukan, keduanya bersin berganti-ganti masing-masing tiga  kali).

GONZALO    :     Ehaaaah, agak enakan sekarang.

LAURA          :     Saya pun merasa enak sekarang.

(KE Samping) Obat itu telah mendamaikan kami rupanya!

GONZALO    :     Maaf, saya mau membaca keras. Tidak mengganggu kan?

LAURA          :     Silahkan sekeras mungkin, tuan tidak menggangu saya lagi.

GONZALO    :     (membaca) “  Segala cinta itu menyakitkan hati

Tetapi bagaimana jugapun pedihnya

Cinta adalah sesuatu yang terbaik

Yang pernah kita miliki “

Nah, bait itu dari penyair Campoamor.

LAURA          :     Ah!

GONZALO    :     (membaca) “  Anak-anak dari para bunda

Yang pernah kucinta

Menciumku sekarang

Seperti bayangan hampa “

Baris-baris ini agak lucu juga rasanya.

LAURA          :     (tertawa) Kukira juga begitu.

GONZALO    :     Ada beberapa sajak bagus dalam buku ini. Dengar!

(membaca) “  Duapuluh tahun berlalu

Ia pun kembalilah “

LAURA          :     Cara tuan membaca dengan kaca pembesar itu sungguh agak menggelikan saya.

GONZALO    :     Jadi nyonya bisa membaca tanpa kaca pembesar?

LAURA          :     Tentu saja, tuan.

GONZALO    :     Setua itu? Ahai, nyonya main-main saja!

LAURA          :     Coba saya pinjam buku tuan itu!

(mengambil buku dan membacanya keras-keras)

“  Duapuluh tahun berlalu

Dan ia pun kembalilah

Masing-masing saling memandang,

Berkata :

Mungkinkah dia orangnya?

Ya Allah, dimana oranya itu? “

GONZALO    :     Hebat! Saya iri hati pada penglihatan nyonya.

LAURA          :     (Kesamping) Hmm, saya hafal tiap kata syair itu.

GONZALO    :     Saya gemar sekali puisi-puisi yang bagus. Sungguh gemar sekali. Bahkan ketika masih muda, kadang-kadang suka bersyair.

LAURA          :     Sajak-sajak bagus juga?

GONZALO    :     Ya, macam-macamlah. Saya dulu sahabat dari Exprosoda, Zorilla, Bocquer, dan penyair-penyair lain. Saya kenal Zorilla pertama kali di Amerika.

LAURA          :     Eh, tuan pernah ke Amerika?

GONZALO    :     Sering juga. Pertama kesana saya waktu umur 6 tahun.

LAURA          :     Tentunya dulu tuan ikut Colombus.

GONZALO    :     (tertawa) Yah, tidak sejelek itu nasibku! Saya sudah tua, tapi belum pernah kenal Raja Ferdinand serta Ratu Isabella!

(keduanya tertawa). Saya juga teman Campoamor, berjumpa pertama kali di Valensia. Saya warga kota di sana.

LAURA          :     Apa sungguh?

GONZALO    :     Saya dibesarkan disana. Dan masa mudaku habis di kota itu. Apa nyonya pernah ke Valensia?

LAURA          :     Pernah! Tiada jauh dari Valensia ada sebuah villa dan kalau masih berdiri sekarang, bisa mengembalikan kenangan-kenangan yang manis. Saya pernah tinggal beberapa musim di sana. Tapi sudah lama lampau. Villa itu dekat laut, tersembunyi antara pohon jeruk. Mereka menyebutnya … ah … lupa … o ya, Villa Maricella.

GONZALO    :     Maricella?

LAURA          :     Maricella. Apa tuan  pernah mendengarnya?

GONZALO    :     Tak asing lagi nama itu … ah, kita tambah tua tambah pelupa … di Villa itu dulu ada seorang wanita paling cantik yang pernah saya lihat dan saya kenal. Dan namanya … O ya, Laura Liorento!

LAURA          :     (kaget) Laura Liorento?

GONZALO    :     Benar (mereka saling tatap)

LAURA          :     (sadar lagi) Ah, tak apa-apa, hanya mengingatkan saya pada teman karib saya.

GONZALO    :     Aneh juga.

LAURA          :     Memang aneh! Dia diberi sebutan “ Perawan Bagai Perak”.

GONZALO    :     Tepat, “Perawan Bagai Perak”. Nama itulah yang terkenal di sana. Sekarang saya seperti melihatnya kembali di jendela di antara kembang mawar merah itu. Nyonya ingat jendela itu?

LAURA          :     Ya, saya ingat itulah jendela kamarnya.

GONZALO    :     Dulu dia suka berjam-jam di jendela.

LAURA          :     (melamun) Ya, memang dulu dia suka begitu.

GONZALO    :           Dia gadis ideal. Manis bagai kembang lilia. Rambutnya hitam. Sungguh mengesankan sekali! Mengesankan sampai kapan

saja. Tubuhnya ramping sempurna. Betapa Tuhan telah menciptakan keindahan seperti itu. Dia seperti impian saja.

LAURA          :     (ke samping) Jika seandainya tuan tahu bahwa impian itu ada di samping tuan, tuan akan sadar impian macam apa itu, heh?

(keras-keras) Dia adalah gadis yang malang yang gagal cinta.

GONZALO    :     Betapa sedihnya (mereka saling memandang)

LAURA          :     Tuan pernah mendengar kabarnya?

GONZALO    :     Ya, pernah.

LAURA          :     Nasib malang meminta yang lain.

(kesamping) Gonzalo!

GONZALO    :     Si jago cinta cakap itu! Peristiwa cinta yang sama.

LAURA          :     Ah, duel itu.

GONZALO    :     Tepat, duel itu. Si Jago Cinta itu adalah … saudara sepupu saya. Saya juga sayang sekali kepadanya.

LAURA          :     Oh ya, saudara sepupu. Seorang temanku menyurati saya dan bercerita tentang mereka. Dia … saudara sepupu tuan itu … tiap pagi lewat di depan jendelanya dengan naik kuda, dan melemparkan ke atas seberkas kembang yang segera disambut gadisnya.

GONZALO    :     Dan tak lama kemudian, dia … saudara sepupu saya itu … lewat lagi untuk menerima kembang dari atas. Begitu?

LAURA          :     Benar. Dan keluarga gadis itu ingin agar ia kawin dengan saudagar yang tidak ia cintai.

GONZALO    :     Dan pada suatu malam, ketika saudara sepupuku tadi tengah menanti gadisnya menyanyi … di bawah jendela, lelaki itu muncul dengan tiba-tiba.

LAURA          :     Dan menghina saudara tuan itu.

GONZALO    :     Kemudian  pertengkaran terjadi.

LAURA          :     Dan kemudian … duel!

GONZALO    :     Ya, waktu matahari terbit, di tepi pantai, dan si Saudagar itu luka-luka parah. Saudara sepupu saya itu harus bersembunyi dan kemudian melarikan diri.

LAURA          :     Tuan rupanya mengetahui benar ceritanya.

GONZALO    :     Nyonya pun begitu agaknya.

LAURA          :     Saya katakan tadi, seorang teman telah menyurati saya.

GONZALO    :     Saya pun diceritai oleh saudara sepupu saya.

(ke samping) Heh, inilah Laura itu! Tak salah!

LAURA          :     (ke samping) Kenapa menceritakan padanya? Dia tak curiga       apa-apa.

GONZALO    :     (ke samping) Dia sama sekali tak bersalah.

LAURA          :     Dan apakah tuan pula yang menasihati saudara tuan itu untuk melupakan Laura?

GONZALO    :     Ooo, saudara sepupu saya tak pernah melupakannya.

LAURA          :     Bagaimana begitu?

GONZALO    :     Akan saya ceritakan segalanya kepada nyonya.

Anak muda – Don Gonzalo itu – bersembunyi di rumah saya, takut menanggung akibatnya yang buruk sehabis menang duel itu. Dari rumah saya ia terus lari ke Madrid. Ia kirim surat-surat kepada Laura, di antaranya sajak-sajak. Tapi tentunya surat-surat itu jatuh ke tangan orang tuanya. Buktinya tak ada balasan. Kemudian Gonzalo pergi ke Afrika, sebab cintanya telah gagal sama sekali, masuk tentara dan terbunuh di sebuah selokan sambil menyebut berulangkali nama Lauranya yang sangat tercinta.

LAURA          :     (ke samping) Dusta! Heh, dusta kotor belaka!

GONZALO    :     (ke samping) Saya tak bisa membunuh diriku lebih  ngeri lagi.

LAURA          :     Tuan tentunya telah ditumbangkan kesedihan yang sangat

GONZALO    :     Memang betul, nyonya. Dia seperti saudaraku sendiri. Dan saya kira tak lama kemudian, Laura telah melupakannya. Kembali bermain memburu kupu-kupu seperti biasanya. Tak pernah meratapinya.

LAURA          :     Tidak, Senior. Sama sekali tidak!

GONZALO    :     Biasanya perempuan memang begitu!

LAURA          :           Kalaupun itu sudah sifat perempuan, “Perawan Bagai Perak” adalah terkecuali! Teman saya itu menanti berhari-hari, berbulan-

bulan, bahkan bertahun-tahun dan tak selembar suratpun tiba. Suatu senja ketika matahari  terbenam, dia meninggalkan rumahnya dan dengan langkah tergesa menuju pantai tempat kekasihnya menjaga nama baiknya. Ia menuliskan namanya di pasir, lalu duduk di atas karang, memandang ke kaki langit. Ombak menyanyikan tembang duka yang kekal, dan menggapai batu karang di mana perawan itu duduk. Air pasang segera tiba dan menyapu gadis itu dari muka bumi.

GONZALO    :     Ya Allah!

LAURA          :     Para nelayan di situ sering menceritakan bahwa nama yang ditulis gadis itu lenyap ditelan air pasang.

(ke samping) Toh kamu tak tahu aku reka-reka sendiri cerita kematianku!

GONZALO    :     ( ke samping ) Dia berdusta lebih ngeri dari dustaku!

LAURA          :     Ah, Laura yang malang!

GONZALO    :     Wahai Gonzalo yang malang!

LAURA          :     (ke samping) Aku takkan bercerita kepadanya bahwa aku kawin dua tahun kemudian setelah duel itu!

GONZALO    :     (ke samping) Aku takkan bercerita kepadanya bahwa dua bulan kemudian aku mengawini penari ballet  dari Paris!

LAURA          :     Nasib memang selalu aneh. Di sini, tuan dan saya, dua orang asing, bertemu secara kebetulan dan saling menceritakan kisah cinta yang sama dari dua teman lama yang telah bertahun lalu terjadi, seperti sudah akrab benar kita ini!

GONZALO    :     Ya, memang aneh. Padahal mula-mula kita bertemu tadi, kita bertengkar.

LAURA          :     Tuan juga yang tadi mengganggu merpati-merpati saya.

GONZALO    :     Memang agak kasar saya tadi.

LAURA          :     Memang kasar. (ramah) Tuan datang lagi besok pagi?

GONZALO    :     Tentu, asal pagi secerah ini. Dan takkan lagi mengganggu merpati-merpati itu, tapi saya akan membawa remah-remah roti besok.

LAURA          :     Oh, terima kasih. Burung-burung  selalu tahu berterimakasih. Hei! Mana pembantuku tadi? – Petra!

GONZALO    :     (melihat laura yang membelakang) Tidak! Tak akan kukatakan siapa aku ini sebenarnya. Aku sudah tua dan lemah. Biarlah dia mengangankan aku sebagai penunggang kuda tampan yang lewat di bawah jendelanya.

LAURA          :     Nah, itu dia.

GONZALO    :     Itu Juanito! Dia sedang bercanda dengan gadisnya! (mengisyarati)

LAURA          :     (memandang gonzalo yang membelakang) Tidak, aku sudah berubah tua. Lebih baik ia mengingatku sebagai gadis bermata hitam yang melempar bunga dari jendela.

(juanito dan petra masuk) Hei, Petra!

GONZALO    :     Juanito, kau sedikit lambat.

PETRA          :     (kepada laura) Si tukang kebun memberikan bunga-bunga ini kepada Seniora.

LAURA          :     Alangkah bagusnya. Terima kasih. Sedap benar baunya! (beberapa bunga gugur ke tanah)

GONZALO    :     Ini semua sungguh menyenangkan, Senora!

LAURA          :     Demikian juga saya, Senior!

GONZALO    :     Sampai besok, nyonya!

LAURA          :     Sampai besok, tuan!

GONZALO    :     Agak panas hari ini!

LAURA          :     Pagi yang cerah. Tuan besok pergi ke bangku tuan?

GONZALO    :     Tidak, saya akan kemari saja. Itu kalau nyonya tidak berkeberatan.

LAURA          :     Bangku ini  selalu menanti tuan!

GONZALO    :     Akan saya bawa remah-remah roti!

LAURA          :     Besok pagi, jadilah!

GONZALO    :     Besok pagi. (laura melangkah ke kanan berpegang pada petra. Gonzalo membungkuk susah payah memungut bunga yang jatuh tadi, dan laura menengok ketika itu)

LAURA          :     Apa yang tuan kerjakan?

GONZALO    :     Juanito, tunggu dong!

LAURA          :     Tak salah, dialah Gonzalo!

GONZALO    :     (ke samping) Tak salah, dialah Laura!

(mereka masing-masing melambaikan tangan)

LAURA          :     Mungkinkah dia itu benar orangnya?

GONZALO    :     Ya Allah, diakah orangnya itu?

(keduanya tersenyum)

L a y a r   T u r u n

Demikian contoh naskah drama 4 orang yang diharapkan bermanfaat bagi Anda sahabat guru pendidikan.

Baca Juga :