Anatomi Hipokampus Beserta Penjelasannya

Diposting pada

anatomi-hipokampus

Pengertian Hipokampus

Hippocampus berasal dari  bahasa Yunani: hippo:kuda, kampos:monster laut). di sebut kudalaut, dilihat dari bentuknya yang menyerupai kudalaut. Hippocampus  berfungsi sebagai kegiatan mengingat dan navigurasi ruangan. hippocampus juga bertanggung jawab untuk menyimpan kenangan, biasanya bagian ini akan mengalami atrophy rata-rata pada usia 55-60 tahun.


Psikolog dan ahli saraf umumnya sepakat bahwa hippocampus memiliki peran penting dalam pembentukan kenangan baru tentang peristiwa yang dialami (memori episodik atau otobiografi). Kerusakan pada hippocampus tidak mempengaruhi beberapa tipe memori, seperti kemampuan untuk belajar motor baru atau keterampilan kognitif (memainkan alat musik, atau memecahkan teka-teki jenis tertentu, misalnya).

HIPPOCAMPUS

Fakta ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut tergantung pada jenis memori (memori prosedural) dan wilayah otak yang berbeda. Lebih lanjut, pasien amnesic sering menunjukkan “implisit” memori untuk pengalaman bahkan tanpa adanya pengetahuan sadar. Dalam hippocampus, arus informasi sebagian besar searah, dengan sinyal merambat melalui serangkaian lapisan sel padat, pertama ke dentate gyrus, kemudian ke lapisan CA3, kemudian ke lapisan CA1, kemudian ke subiculum, kemudian keluar dari hippocampus ke EC. Masing-masing lapisan juga mengandung sirkuit intrinsik kompleks dan koneksi longitudinal yang luas.


Definisi Anatomi Hipokampus

Hipokampus ini terdiri dari beberapa struktur kunci. Di bagian bawah, yang merupakan titik terlebar disebut hipokampus proper atau kornu ammonis dan sebagian tertutup oleh bagian lain dari hipokampus yang disebut alveus. Subikulum ialah bagian dari hipokampus yang mulai dengan lengkung tipis dan kearah atas thalamus. Di bagian atas thalamus duduk bagian dari hipokampus yang disebut dengan fimbria.


Fornix ialah bagian tertipis dari hipokampus dan juga titik dimana struktur ini terhubung ke thalamus di belakang dahi. Untuk informasi listrik dikumpulkan olen kornu ammonis, setelah informasi masuk kornu ammonis bergerak ke bagian lain dari anatomi hipokampus yang disebut pleksus koroid. Struktur ini dimulai di tengah-tengah kornu ammonis dan mengikuti spiral, yang melalui subiculum, fimbria dan fornix sepanjang jalan ke talamus. Forniks hipokampus bergabung di bagian atas karena datang keatas thalamus. Yang kedua belah pihak menekan bersama-sama tapi kemudian memisahkan kembali untuk tersambung ke lobus kanan dan kiri thalamus. Hubungan antara kedua belah pihak dari fornix dikenal sebagai komisura hipokampus.


Hal ini berguna untuk membayangkan anatomi Hipokampus sebagai kuda laut terbalik memang untuk hal ini nama Hipokampus berasal dari bahasa Yunani untuk kuda, kuda nil dan rakasa laut, kampus. Pada Hipokampus ialah lebar dan tebal di daerah bawah, seperti kepala kuda laut. Seperti membungkus di sekitar thalamus, itu menipis ke forniks yang terlihat mirip dengan ekor kuda laut itu. Dua lingkaran seperti “kuda laut” thalamus karena anatomi hipokampus yang simetris.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Batang Otak – Pengertian, Fungsi, Letak, Bagian, Pyramid, Formasi Retikulasi


Amigdala

Amigdala

Amigdala berasal dari bahasa Latin  Amigdalae  yaitu sekelompok saraf yang berbentuk seperti kacang almond. Berfungsi dalam pengolahan data sensorik dan ingatan atas emosi. Tubuh akan bereaksi menggunakan amigdala sebagai pusat emosi lebih cepat daripada tubuh menyadari apa yang dilakukannya. Emosi yang ditangkap oleh amigdala akan dirasionalisasikan oleh salah satu komponen dari system limbic yang lain yang dinamakan korteks prefrontal. Ketika amigdala mengontrol emosi, korteks prefrontal mengendalikannya dalam proporsi seimbang.


Amigdala maupun Hipotalamus ( yang juga menerima sinyal dari amigdala ) memiliki fungsi ganda yang saling berlawanan, artinya perubahan yang akan dihasilkan dari perangsangan ini dapat memicu kompoen pembentuk stres maupun juga komponen pembentuk ketentraman jiwa. Komponen perilaku ini berada pada nucleus-nukleus berbeda sehingga pemunculannya pun tergantung pada bagian mana yang mengalami perangsangan. Jika emosi timbul, hal ini akan terjadi umpan balik dimana rangsangan ini akan terjadi ppeningkatan keresahan sehingga situasi panic yang akhirnya akan timbul. Karena rangsangan ini terjadi pengembalian melalui hipotalamus ke system limbik kemudian ke korteks prefrontal. Di korteks prefrontal akan terjadi peningkatan kadar katekolamin ( sekelompok hormone yang memiliki gugus kotekol yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal dalam menanggapi stress ( University of California, San Diego,Health Library ) ) sehingga membuat orang yang sedang emosi tidak terkendali secara keseluruhan termasuk tidak terkontrol dalam perbuatan.


Mekanisme kerjanya, amigdala memproses emosi secara langsung atau melalui system limbil yang lain yang sinyalnya diberikan oleh amigdala. Untuk komponen emosi yang kerjanya dijalarkan ke hipotalamus, maka yang menentukan komponen emosi apa yang akan timbul ( senang atau kecewa, marah atau bahagia serta komponen lain ) ditentukan oleh amigdala. Hipotalamus hanya sebagai tempat pembentukan, tapi konsep atau pola emosi yang akan dibentuk sudah ditentukan oleh amigdala meskipun hipotalamus sendiri dapat menghasilkan komponen prilaku dengan menggunakan rangsangan listrik. Kesimpulannya, Amigdala berperan besar dalam memebentuk kepribadian seseorang. Jika amigdala bekerja dengan baik, maka baik pula sistem yang lain. Karena pengaruhnya sehingga menghasilkan kepribadian yang baik pula terhadap seseorang.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perbedaan Otak Besar dan Otak Kecil Terlengkap


Fungsi Amigdala

Amigdala merupakan kompleks beragam nukleus kecil yang terletak tepat di bawah korteks serebri dari tiang (pole) medial anterior setiap lobus temporalis. Amigdala mempunyai banyak sekali hubungan dua jalur dengan hipothalamus seperti juga dengan daerah sistem limbik lainnya. Amigdala menerima sistem neuronal dari semua bagian korteks limbik seperti juga dari neokorteks lobus temporalis, parietalis, dan ksipitalis terutama dari area asosiasi auditorik dan area asosiasi visual. Oleh karena hubungan yang multiple ini, amigdala disebut “ jendela “, yang dipakai oleh sistem limbik untuk melihat kedudukan seseorang di dunia. Sebaliknya, amigdala menjalarkan sinyal- sinyal :

  • kembali ke area kortikal yang sama ini,
  • ke hipokampus,
  • ke septum,
  • ke thalamus, dan
  • khususnya ke hipothalamus.

Efek perangsangan amigdala hampir sama dengan efek perangsangan langsung pada hipothalamus, ditambah dengan efek lain. Efek yang diawali dari amigdala kemudian dikirim melalui hipotalamus meliputi : 1) peningkatan dan penurunan tekanan arteri, 2) meningkatkan atau menurunkan frekuensi denyut jantung 3,) meningkatkan atau menurunkan motilitas dan sekresi gastrointestinal, 4) defekasi atau mikturisi 5), dilatasi pupil atau kadangkala kontriksi, 6) piloereksi, 7) sekresi berbagai hormon hipofisis anterior terutama hormon gonadotropin dan adrenokortikortopik.


Disamping efek yang dijalarkan melalui hipotalamus ini, persangsangan amigdala juga dapat menimbulkan beberapa macam gerakan involunter yakni: 1) pergerakan tonik seperti mengangkat kepala atau membungkukkan badan, 2) pergerakan melingkar melingkar, 3) kadangkala pergerakan klonik, ritmis, dan berbagai macam pergerakan yang berkaitan dengan penciuman dan makan sperti menjilat, mengunyah, dan menelan. Selain itu, perangsangan pada nukleo amigdala tertentu dapat menimbulkan pola marah, melarikan diri, rasa terhukum, nyeri yang sangat, dan rasa takut seperti pola rasa marah yang dicetuskan oleh hipotalamus.


Fungsi keseluruhan amigdala

Amigdala merupakan area perilaku kesadaran yang bekerja pada tingkat bawah sadar. Amigdala juga tampaknya berproyeksi pada jalur sistem limbik seseorang dalam berhubungan dengan alam sekitar dan pikiran. Amigdala dianggap membuat respon perilaku seseorang sesuai dengan tiap kedaan.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 4 Fungsi Otak Manusia Secara Umum Menurut Para Ahli


Fungsi Hipokampus

Hipokampus merupakan bagian korteks serebri yang memanjang melipat ke dalam untuk membentuk lebih banyak bagian dalam ventrikel lateralis. Hipokampus merupakan saluran tambahan yang dilewati oleh sinyal sensorik yang masuk, yang dapat memulai reaksi perilaku dengan tujuan yang berbeda.

Seperti halnya halnya pada struktur-struktur limbik lain, perangsangan pada berbagai area dalam hipokampus hampir selalu dapat menyebabkan salah satu dari berbagai pola perilaku, misalnya rasa marah, ketidak pedulian, atau dorongan seks yang berlebihan. Hal-hal yang berasal dari ingatan jangka pendek dapat diubah untuk disimpan menjadi ingatan jangka panjang oleh hipokampus. Hipokampus (terletak diantara lobus temporal otak) dan bagian media lobus temporal (bagian yang terletak paling dekat dengan garis tengah badan) juga berperan dalam proses penggabungan ingatan (memory consolidation).


Untuk mengingat sesuatu, seseorang harus berhasil melaksanakan 3 hal, yaitu mendapatkan informasi, menahan/meyimpannya dan mengeluarkannya. Bila kita lupa akan sesuatu, maka gangguan dapat terjadi pada bagian mana saja dari ke 3 proses tersebut. Memory adalah proses aktif, karena ilmu pengetahuan berubah terus, selalu diperiksa dan diformulasi ulang oleh pikiran otak kita.

Ingatan mempunyai beberapa fase yaitu :

  • waktunya sangat singkat (extremely shortterm)/ingatan segera (immediate memory) (item hanya dapat disimpan dalam beberapa detik)
  • Ingatan jangka pendek (short term) (items dapat ditahan dalam beberapa menit), ingatan jangka panjang (long term) (penyimpanan berlangsungbeberapa jam sampai seumur hidup.
  • Ingatan jangka panjang dihasilkan oleh perubahan struktural pada system saraf, yang terjadi karena aktifasi berulang terhadap lingkaran neuron (loop of neuron).

Lingakaran tersebut dapat dari korteks ke thalamus atau hipokampus, kembali lagi ke korteks. Aktifasi berulang terhadap neuron yang membentuk loop tersebut akan menyebabkan synaps diantara mereka secara fungsional berhubungan. Sekali terjadi hubungan, maka neuron tersebut akan merupakan suatu kumpulan sel, yang bila tereksitasi pada neuron tersebut akan terjadi aktifasi seluruh kumpulan sel tersebut.

Dengan demikian dapat disimpan dan dikembalikan lagi oleh berbagai sensasi, pikiran atau emosi yang mengaktifasi beberapa neuron dari kumpulan sel tersebut. Menurut Hebb perubahan struktural tersebut terjadi di sinaps.


Peran Hipokampus dalam pembelajaran

Fungsi teoritis hipokampus pada pembelajanèdapat menyebabkan timbulnya dorongan untuk mengubah in gatan jangka pendek menjadi ingatan jangka panjang. Artinya, hipokampus menjalarkan sinyal-sinyal yang tampaknya membuat pikiran berulang-ulang melatih informasi baru sampai menjadi ingatan yang disimpan permanaen.

Amigdala memainkan peran yang penting dalam emosi, khususnya kemarahan dan agaresi (Adolphs, dalam Sternberg 2006). Septum memainkan peran penting dalam emosi, khususnya kemarahan dan rasa takut. Hipokampus memainkan peran yang esensial dalam membentuk memori (Cohen, dkk dalam Sternberg 2006). Individu yang telah mengalami kerusakan pada hipokampus masih dapat memanggil kembali informasi yang telah ada sebelumnya tetapi mereka tidak dapat membentuk ingatan yang baru.


Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Perbedaan Stimulasi Dan Respon Dalam Biologi

Persarafan Hipokampus dan Saraf Kranial

Ada 12 saraf kranial yang meninggalkan otak melalui foramina dan fissura di tengkorak. Semua saraf ini didistribusikan  ke kepala dan leher kecuali saraf kranial kesepuluh, yang mempersarafi struktur-struktur yang berada di toraks dan abdomen. Saraf-saraf otak tersebut diberi nama sebagai berikut: olfactorius (n.I), opticus (n.II), oculomotorius (n.III), trochlearis (n.IV), trigeminus (n.V), abducens (n.VI), facialis (n.VII), vestibulocochlearis (n.VIII), glossopharyngeus (n.IX), vagus (n.X), accessorius (n.XI), dan hypoglossus (n.XII) (Snell, 2002).


Nervus olfactorius, nervus opticus, dan nervus vestibulocochlearis merupakan saraf sensorik murni. Nervus oculomotorius, nervus trochlearis, nervus abducens, nervus accessorius, dan hypoglossus adalah saraf motorik murni. Nervus trigeminus, nervus facialis, nervus glossopharyngeus, dan nervus vagus merupakan saraf campuran motorik dan sensorik (Snell, 2002).


Nervus kranialis memiliki nuklei motorik dan/ atau sensorik di dalam otak dan serabut-serabut saraf perifer keluar dari otak serta meninggalkan tengkorak menuju organ sensorik atau efektor (Snell, 2002). Adapun serabut-serabut saraf kranial dikelompokkan menjadi beberapa jenis:

  1. Serabut aferen somatik, yang menghantarkan impuls rasa nyeri, suhu, raba, tekanan, dan sensasi propioseptif melalui reseptor-reseptornya di kulit, sendi, otot, dan sebagainya.
  2. Serabut aferen otonom (viseral), yang menghantarkan impuls (nyeri) dari organ visera.
  3. Serabut aferen khusus (SAK), yang terdiri atas SAK somatik yang menghantarkan impuls dari reseptor khusus (mata, telinga) dan SAK viseral yang menghantarkan impuls kecap dan bau.
  4. Serabut eferen somatik umum, yang mempersarafi otot-otot rangka (III, IV, VI, XII).
  5. Serabut eferen viseral, yang mempersarafi otot polos, otot jantung, dan kelenjar (parasimpatis/ simpatis)
  6. Serabut eferen brankhio-metrik khusus yang mempersarafi otot-otot derivat arkus brankhialis (n.V untuk arkus 1, n.VII untuk arkus 2, n. IX untuk arkus 3, n. X dan n. XI untuk arkus selanjutnya).

Berbagai komponen saraf otak, fungsi, serta celah di cranium yang dilewati oleh saraf-saraf tersebut untuk meninggalkan cavum crania diringkas sebagai berikut:

Saraf-Saraf Kranial (Nervi Craniales)

No

Nama

Komponen

Fungsi

Tempat keluar di otak

IOlfactoriusSensorik (SVA)PenghiduCelah-celah di lamina cribrosa ossis ethmoidalis
IIOpticusSensorik (SSA)PenglihatanCanalis opticus
IIIOculomotoriusMotorik (GSE, GVE)Mengangkat kelopak mata atas, menggerakkan bola mata ke atas, bawah, dan medial; konstriksi pupil; akomodasi mataFissura orbitalis superior
IVTrochlearisMotorik (GSE)Membantu menggerakkan bola mata ke bawah dan lateralFissura orbitalis superior
VTrigeminus
Divisi ophtalmicusSensorik (GSA)Kornea, kulit dahi, kulit kepala, kelopak mata, dan hidung; juga membran mukosa sinus parasanal dan rongga hidungFissura orbitalis superior
Divisi maxillarisSensorik (GSA)Kulit wajah di atas maxilla; gigi geligi rahang atas; membrane mukosa hidung, sinus dan lempeng maxillaForamen rotundum
Divisi mandibularisMotorik (SVE)

 

 

 

 

Sensorik (GSA)

Otot-otot pengunyah, M. mylohyoideus, m. digastricus venter anterior, m. tensor veli palatini, dan m. tensor tympanicum.

Kulit pipi; kulit di atas mandibula dan sisi kepala, gigi geligi rahang bawah dan articulation temporo mandibularis; membrane mukosa mulut dan bagian anterior lidah

Foramen ovale
VIAbducensMotorik (GSE)M. rectus lateralis menggerakkan mata ke lateralFissura orbitalis superior
VIIFacialisMotorik (SVE)

 

 

 

Sensorik (SVA)

 

 

Sekretomotorik parasimpatis (GVE)

Otot-otot wajah dan kulit kepala, m. stapedius, m. digastricus venter posterior, dan m. stylohyoideus.

Pengecapan dari dua-pertiga bagian anterior lidah, dari dasar mulut dan palatum.

Kelenjar ludah submandibula dan sublingual, kelenjar lakrimalis, dan kelenjar hidung dan palatum.

 

Meatus acusticus interna, canalis facialis, foramen sylomastoideus
VIIIVestibulocochlear
VestibularSensorik (SSA)Dari utriculus, sacculus, dan canalis semicircularis- posis dan gerakan kepalaMeatus acusticus internus
CochlearSensorik (SSA)Organ Corti- pendengaranMeatus acusticus internus
IXGlossopharyngeusMotorik (SVE)

 

Sekretomotorik parasimpatis (GVE)

Sensorik (GVA, SVA, GSA)

M.stylopharingeus-membantu menelan.

Kelenjar parotis.

 

Sensasi umum dan pengecap dari dua pertiga bagian posterior lidah dan faring; sinus carotis (baroreseptor); corpus carotis (kemoreseptor)

Foramen jugulare
XVagusMotorik (GVE, SVE)

 

Sensorik (GVA, SVA, GSA)

Jantung dan pembuluh darah besar di toraks; laring, trakea, bronkus, dan paru; traktus alimentary dari faring ke fleksura splenicus kolon; hepar, ginjal, dan pankreasForamen jugulare
XIAccessorius

Radix cranialis

Motorik (SVE)Otot-otot palatum molle (kecuali m. tensor veli palatini), faring (kecuali m. stylopharyngeus), dan laring (kecuali m. cricothyroid) di cabang-cabang n. vagusForamen jugulare
Radiks spinalisMotorik (SVE)M. sternocleidomastoideus dan m. trapeziusForamen jugulare
XIIHypoglossusMotorik (GSE)Otot-otot lidah (kecuali m. palatoglossus) mengatur bentuk dan pergerakan lidahCanalis hypoglossus

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : 12+ Sistem Anatomi Tubuh Manusia


Nervus Olfactorius (Saraf Otak I)

Nervus Olfactorius (Saraf Otak I)

Nervus olfactorius muncul dari sel-sel reseptor saraf di dalam membran mukosa olfaktori yang terletak di rongga hidung bagian atas di cranial conchae superior. Sel reseptor olfaktori tersebar di antara sel penyokong. Setiap sel reseptor terdiri dari sel-sel saraf bipolar kecil dengan processus perifer yang kasar yang berjalan ke permukaan membran dan sebuah processus sentral yang halus. Dari processus perifer yang kasar timbul cilia-cilia pendek, rambut olfactorius yang menembus ke dalam mucus yang menutupi permukaan membran mukosa. Tonjolan serabut-serabut ini bereaksi terhadap bau di udara dan menstimulasi sel-sel olfactorius (Snell, 2002).
Processus sentralis yang halus membentuk serabut saraf olfactorius. Berkas serabut-serabut saraf ini masuk ke bulbus olfactorius melalui lubang-lubang di lamina cribrosa os ethmoidale. Serabut-serabut nervus olfactorius tidak bermielin dan diliputi oleh sel Schwann (Snell, 2002).


Gangguan-gangguan yang melibatkan saraf otak I sebagai berikut:

  1. Anosmia
    Hilangnya sensasi penciuman yang dapat disebabkan oleh kelainan agenesis traktus olfaktorius (merupakan cacat bawaan), gangguan mukosa olfaktorius (rinitis, tumor hidung), robekan fila olfaktoria akibat fraktur lamina kribosa, destruksi bulbus dan traktus olfactorius akibat adanya kontusi kontrakup (biasanya karena jatuh dan belakang kepala terbentur), trauma region orbita, dan infeksi sekitarnya serta tumor fosa cranial anterior (Satyanegara, 1998).
  2. Hiperosmia
    Sensasi penciuman akut yang berlebihan. Keadaan ini dapat dijumpai pada kasus-kasus histeria, kadang pada kasus adiksi kokain.
  3. Parosmia
    Abnormalitas penciuman yang dapat terjadi pada kasus-kasus skhizofrenia, lesi-lesi girus unsinatus, dan histeria.
  4. Kakosmia
    Timbulnya bau-bau tak enak, biasanya merupakan akibat dekomposisi jaringan.
  5. Halusinasi olfaktorius
    Halusinasi penciuman yang dapat terjadi pada penderita-penderita psikosis, epilepsi, girus unsinatus (uncinate fits) akibat lesi unkus dan hipokampus (Satyanegara, 1998).

Nervus Opticus (Saraf Otak II)

Nervus Opticus (Saraf Otak II)

Serabut- serabut N. II adalah akson-akson sel di lapisan ganglionik retina. Serabut tersebut berkonvergensi pada discus opticus dan keluar dari mata, pusatnya sekitar 3 atau 4 mm dari sisi nasal sebagai N. II. Serabut-serabut N.II bermielin, namun selubungnya dibentuk oleh sel oligodendrosit bukan sel Schwann. Oleh karena itu, N. II disamakan dengan traktus saraf di susunan saraf pusat. Saraf otak II meninggalkan rongga orbita melalui canalis opticus dan bergabung dengan nervus opticus sisi kontralateral untuk membentuk chiasma opticum (Snell, 2002).
Gangguan lapang pandang cenderung dapat mengarahkan adanya gangguan atau kerusakan sistem penglihatan di lokasi tertentu seperti:

  1. Buta sirkumferensial (tubuler)
    Neuritis optikum retrobulbar buta total sebelah mata: kerusakan seluruh serabut N. II
  2. Hemianopsia bitemporalis
    Gangguan daerah khiasma karena tumor hipofise, meningioma, tuberkulum sela, kraniofaringioma
  3. Hemianopsia nasal unilateral
    Lesi prekhiasma karena perkapuran a. karotis interna
  4. Hemianopsia homonimus unilateral (refleks pupil negatif)
    Lesi lobus parietal/temporal kontralateral yang menekan traktus optikus
  5. Kuadranopsia hominimus inferior unilateral
    Gangguan radiasio optika kontralateral
  6. Hemianopsia homonimus unilateral (reflek pupil normal)
    Gangguan kedua sisi khiasma optikus serebelum serabut-serabut n. II menghilang, misalnya aneurisma a. karotis bilateral, arakhnoiditis khiasmatika.
  7. Macular spring
    Gangguan di belakang khiasma optikum/ lesi lobus oksipitalis (Satyanegara, 1998).

Nervus Oculomotorius (Saraf Otak III)

Nervus Oculomotorius (Saraf Otak III)

Nervus oculomotorius mempunyai dua nuklei motorik, yaitu nukleus motorik utama dan nukleus parasimpatis asesorius (nukleus Edinger-Westphal). Nervus oculomotorius muncul dari permukaan anterior mesencephalon. Nervus ini melintas kedepan di antara arteria cerebri posterior dan arteria cerebella superior. Selanjutnya, nervus ini berjalan ke dalam fossa crania media di dinding lateral sinus cavernosus. Disini, nervus oculomotorius terbagi menjadi ramus superior dan inferior yang memasuki rongga orbita melalui fisura orbitalis superior (Snell, 2002).

N.oculomotorius mempersarafi otot-otot ekstrinsik mata berikut:  m. levator palbebrae superioris,  m. rectus medialis, m. rectus inferior, dan m. obliquus inferior. Melalui cabang ke ganglion ciliare dan serabut parasimpatis nervi ciliares breves, nervus ini juga mempersarafi otot-otot intrinsik mata berikut: m. constrictor papillae iris dan m. ciliaris  (Snell, 2002).

Dengan demikian, nervus oculomotorius bersifat motorik murni dan berfungsi mengangkat kelopak mata atas; menggerakkan bola mata ke atas, bawah, dan medial; konstriksi pupil; serta akomodasi mata (Snell, 2002). Kerusakan semua serabut n. III akan menimbulkan paralisa semua otot mata, kecuali m. rectus lateralis (yang dipersarafi oleh n.VI) dan m. obliquus superior (dipersarafi n.IV). Paralisa persarafan parasimpatis akan menyebabkan hilangnya refleks pupil, midriasis dan gangguan konvergensi serta akomodasi (Satyanegara, 1998).


Nervus Trochlearis (Saraf Otak IV)

Nervus Trochlearis (Saraf Otak IV)

Nervus trochlearis merupakan satu-satunya saraf kranial yang keluar melalui dorsal batang otak (Satyanegara, 1998). Nervus trochlearis muncul dari mesencephalon dan segera menyilang saraf senama sisi yang berlawanan. Nervus trochlearis berjalan ke depan melalui fossa crania media pada dinding lateral sinus cavernosus dan masuk rongga orbita melalui fisura orbitalis superior (Snell, 2002). Saraf ini mempersarafi m. obliquus superior (untuk menggerakkan mata ke arah bawah- dalam dan abduksi sedikit. Paralisa otot ini akan menampilkan deviasi mata ke atas dan sedikit ke dalam yang tampak jelas bila mata melirik ke bawah dan ke dalam (Satyanegara, 1998).


Nervus Trigeminus (Saraf Otak V)

Nervus Trigeminus (Saraf Otak V)

Nervus trigeminus merupakan saraf otak terbesar yang berisi serabut-serabut sensorik dan motorik. Saraf ini merupakan saraf sensorik (posio mayor) untuk sebagian besar kepala dan nervus motorik (porsio minor) untuk beberapa otot, termasuk otot-otot penguyah.

Porsio mayor atau bagian sensorik mempunyai sentral dari gangguan trigeminus (ganglion semilunaris Gasseri) yang berkaitan dengan ganglion spinalis dan mengandung sel-sel ganglion pseudo-unipolar. Akson perifer sel ini berhubungan dengan reseptor rasa raba, diskriminasi, tekanan, nyeri, dan suhu. Processus sentralnya memasuki pons dan berakhir di nukleus sensorik prinsipalis (raba dan diskriminasi) serta di nukleus spinalis (rasa nyeri dan suhu). Ganglion Gasseri terletak di suatu cekungan (impresio trigemini) pada bagian rostral os petrosus, di luar sinus kavernosus posterolateral. Akson-akson perifer neuron ganglion yang menghantarkan impuls sensorik ini terdiri dari tiga divisi utama yaitu: n. oftalmikus (n.V1) yang memasuki rongga tengkorak melalui fisura orbitalis superior, n. maksilaris (n. V2) yang masuk melalui foramen rotundrum, dan n. mandibularis yang masuk melalui foramen ovale (Satyanegara, 1998).

Porsio minor atau bagian motorik n.V mempunyai nucleus pada tegmentum pons yang terletak di sebelah medial nukleus sensorik prinsipalis. Saraf motorik ini meninggalkan tengkorak bersama n. mandibularis dan menginervasi otot-otot masseter, temporal, pterigoid lateralis dan medialis, milohioid, digastrikus anterior, dan tensor veli palatine (Satyanegara, 1998). Gangguan yang melibatkan saraf otak V ini dapat dimanifestasikan sebagai penyakit-penyakit: neuralgia trigeminus, glaucoma/ iritis, sindroma Charlin, sindroma Gradenigo dan sindroma Bing-Horton (Satyanegara, 1998).


Nervus Abducens (Saraf Otak VI)

Nervus Abducens (Saraf Otak VI)

Nervus abducens adalah saraf motorik kecil yang mempersarafi musculus rectus lateralis bola mata. Serabut- serabut nervus abducens melintas ke anterior melalui pons serta muncul di alur antara tepi bawah pons dan medulla oblongata. Nervus ini akan berjalan ke depan melalui sinus cavernosus serta terletak di bawah dan lateral a. carotis interna. Selanjutnya, saraf ini masuk ke orbita melalui fisura orbitalis superior. Nervus abducens berfungsi motorik murni dan mempersarafi musculus rectus lateralis (Snell, 2002).

Paralisa nervus abducens tampak pada penderita yang sedang melihat ke arah depan. Mata yang terganggu akan terputar ke arah dalam dan tak dapat melirik ke lateral. Bila disuruh melihat ke arah nasal, mata yang paralisa akan ke arah dalam atas karena predominansi m. obliquus internus (Satyanegara, 2002).


Nervus Facialis dan Intermedius (Saraf Otak VII)

Nervus Facialis dan Intermedius (Saraf Otak VII)

Nervus facialis mempunyai dua subdivisi, yaitu saraf yang mengandung komponen motorik dan menginervasi otot-otot ekspresi wajah, dan n. intermedius yang mengandung aferen otonom, somatik, dan eferennya (Satyanegara, 1998).

Nukleus motorik n. facialis di bagian ventrolateral tegmentum pons dekat medulla oblongata. Pada mulanya, akson neuron pertamanya berjalan menuju dasar ventrikel IV dekat garis tengah, dan kemudian melingkari nucleus n.VI terus ke arah sudut serebelopontomedularis tepat di depan n.VIII. Lutut n.VII akan membentuk kolikulus fasialis pada dasar ventrikel IV tepat di atas stria medularis horizontalis. N. intermedius keluar di antara n. VII dan n. VIII. Ketiganya akan berlanjut masuk ke dalam kanalis akustikus internus, dan di dalamnya, n.VII dan intermedius akan memisahkan diri ke lateral dalam kanalis fasialis sampai ganglion genikulatum. N. facialis akan meninggalkan tengkorak melalui foramen stilomastoideus dan kemudian dari sini serabut-serabut motoriknya akan tersebar di otot-otot wajah (m. orbicularis oculi, buccinators, digastricus posterior, dan platisma). Gangguan pada nervus fasialis terdiri atas paralisa perifer, paralisa nuklear, dan paralisa supranuklear (Satyanegara, 1998).

Nervus intermedius mengandung beberapa komponen aferen dan eferen. Serabut aferennya menghantarkan impuls dari reseptor kecap dua pertiga depan lidah. Serabut ini berjalan bersama dengan n. lingualis (cabang n. mandibularis), khorda timpani, menuju ke ganglion genikulatum serta berakhir pada nukleus traktus solitarius (di mana serabut kecap n. IX juga berakhir). N. intermedius juga mengandung serabut eferen parasimpatis yang berasal dari nukleus salivatorius superior (sebelah bawah medial nucleus n. VII) dan menuju ke kelenjar lakrimalis, kelenjar-kelenjar di mukosa hidung. Ada sebagian serabut yang lewat ganglion mandibularis menuju kelenjar sublingual dan submandibular. Gangguan pada n. intermedius akan menimbulkan neuralgia, seperi neuralgia sluder dan neuralgia hunt (Satyanegara, 1998).


Nervus Vestibulocochlearis (Saraf Otak VIII)

Nervus Vestibulocochlearis (Saraf Otak VIII)

Saraf ini terdiri dari dua bagian yang berbeda, yaitu nervus vestibularis (keseimbangan, posisi, dan gerakan kepala) dan nervus cochlearis (auditorius), yang berperan untuk transmisi informasi aferen dari telinga dalam menuju susunan saraf pusat.

Nervus vestibularis mengatur tiga sistem, yaitu keseimbangan sistem vestibuler, sistem propioseptif dari otot dan sendi serta sistem optik. Sistem keseimbangan terdiri dari labirin (yang mencakup utrikulus, sakulus, dan kanalis semisirkularis), n, vestibularis, dan jaras vestibuler sentral. Organ reseptor keseimbangan adalah macula statika (yang berada di dalam labirin untuk mengirimkan impuls-impuls statik dan informasi tentang posisi kepala) dan Krista ampularis (terletak di dalam ampula kanalis semisirkularis sebagai reseptor kinetic). Impuls yang diterima oleh reseptor ini akan dihantarkan oleh akson perifer neuron bipolar dari ganglion vestibularis (Scarpa) yang terletak di meatus akustikus internus, dan kemudian akan menuju ke sentral sebagai n. vestibularis. Saraf ini berjalan bersama dengan nervus cochlearis melalui meatikus akustikus internus, ke sudut serebelo-pontin, dan masuk ke batang otak mencapai nukleus vestibularis yang terletak di dasar ventrikel IV. Kompleks nucleus vestibularis terdiri dari nucleus vestibularis superior (Bechterew), nucleus vestibularis lateralis (Deiter), nucleus vestibularis medialis (Schwalbe) dan nucleus vestibularis inferior (Roller) (Satyanegara, 1998).

Iritasi pada alat keseimbangan dan hubungan-hubungan sentralnya akan menimbulkan vertigo, yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan keseimbangan pada posisi berjalan atau berdiri, serta kecendrungan untuk jatuh (Satyanegara, 1998).

Nervus cochlearis memberikan impuls saraf yang berkaitan dengan suara dari organ corti di dalam cochlea. Serabut-serabut saraf nervus cochlearis merupakan processus sentralis sel-sel saraf di dalam ganglion spiralis cochlea. Semua masuk ke dalam permukaan anterior batang otak pada pinggir bawah pons di sisi lateral dari tempat keluarnya nervus facialis dan dipisahkan darinya oleh nervus vestibularis. Pada saat memasuki pons, serabut-serabut saraf terbagi dua, satu cabang masuk ke dalam nukleus cochlearis posterior dan cabang yang lain masuk ke dalam nukleus cochlearis anterior (Snell, 2002). Pada kejadian kinis sehari-hari, dikenal dua tipe gangguan pendengaran yaitu tuli konduktif dan tuli saraf (Satyanegara, 1998).


Nervus Glossopharyngeus (Saraf Otak IX)

Nervus Glossopharyngeus (Saraf Otak IX)

Nervus glossopharyngeus memiliki tiga nukleus yakni nukleus motorik utama, nukleus parasimpatis dan nukleus sensorik (Snell, 2002). Nervus glossopharyngeus bersama dengan n.X, dan n. XI meninggalkan cranium melalui foramen jugularis, yang pada foramen tersebut terdapat dua ganglion yaitu: ganglion superior intrakranial dan ganglion inferior ekstrakranial. Setelah keluar melalui foramen ini, n. IX akan berjalan di antara a. carotis interna dan v. jugularis interna, malalui m. stilomastoideus menuju ke bawah lidah, dan mempersarafi mukosa farings, tonsil, dan sepertiga posterior lidah (Satyanegara, 1998).

Saraf ini mempunyai cabang, yakni timpanikus, cabang stilofaringeus, cabang faringeus, cabang sinus karotikus, dan linguaris. Adapun kelainan pada n. glossopharyngeus dapat berupa paralisa atau neuralgia, yang umumnya juga disertai gangguan n. X dan n. XI (jarang berupa kerusakan tunggal ) (Satyanegara, 1998)


Nervus Vagus (Saraf Otak X)

Nervus Vagus (Saraf Otak X)

Saraf vagus mempunyai dua buah ganglia yaitu: ganglion superior (jugularis) dan ganglion inferior (nodosum). Dari ganglion nodosum (inferior), saraf ini berjalan ke kaudal sepanjang a. carotis interna dan carotis communis dan mencapai mediastinum melalui aperture toraks superior. N. X kanan akan melangkahi a. subklavia, sedangkan yang kiri akan menyilang arkus aorta. Selanjutnya, keduanya akan menempel di esofagus (kanan di aspek posterior dan kiri di aspek anterior) membentuk pleksus esofagus. Cabang terminalnya akan masuk ke kavitas abdomen melalui hiatus esofagus diafragmatika. Dalam perjalanannya, n. X mempunyai cabang-cabang yang terdiri atas cabang dura, cabang aurikuler, cabang faringeus, cabang laringeus superior, cabang laringeus rekuren, cabang kardiak-servikalis superior dan kardiak torasis, cabang bronkhialis, dan cabang gastrikus (anterior dan posterior) (Satyanegara, 1998).

Gangguan n. X dapat terjadi intrakranial: tumor, hematom, thrombosis, multiple sklerosis, sifilis, sklerosis amniotropik lateralis, siringobulbia, meningitis, dan aneurisma; atau di perifer: neuritis, tumor, penyakit kelenjar, trauma, dan aneurisma aorta (Satyanegara, 1998).


Nervus Accessorius (Saraf Otak XI)

Nervus Accessorius (Saraf Otak XI)

Saraf ini mempunyai dua cabang yaitu cabang kranial dan cabang spinal. Cabang kranialnya adalah akson-akson neuron nukleus ambigus (yang sebenarnya merupakan milik n.X) yang mempersarafi otot-otot intrinsik laring. Cabang spinal merupakan serabut motorik dari bagian lateral kornu anterior segmen servikal (1-5/6) untuk membantu pernafasan otot trapezius dan sternokleidomastoideus. Cabang ini menghantarkan impuls volunter melalui traktus kortiko-spinalis, impuls postural melalui traktus ekstrapiramidalis, refleks melalui traktus vestibule-spinalis dan traktus tekto-spinalis serta arkus inter-intra- segmental (Satyanegara, 1998).

Ada beberapa sindroma yang melibatkan n. XI seperti sindroma Avellis (lesi nukleus n. X dan XI cabang kranial), sindroma Schmidt (n. X dan XI), sindroma Javkson (lesi nukleus/ radiks n. X, XI, dan XII), sindroma Vernet (n. IX, X, dan XI), sindroma Villaret (lesi perifer n. IX, X, XI, XII) (Satyanegara, 1998).


Nervus Hypoglossus (Saraf Otak XII)

Nervus Hypoglossus (Saraf Otak XII)

Nukleus saraf otak XII terletak di medulla oblongata di masing-masing sisi garis tengah dekat dasar ventrikel IV (trigonum hipoglosi). Masing-masing nukleus tersusun dari beberapa kelompok motorneuron dan masing-masing kelompok akan mempersarafi bagian-bagian otot lidah. N. hipoglosus merupakan saraf eferen somatik di mana aksonnya berjalan ke arah ventral sulkus lateralis anterior di antara piramis dan oliva inferior dan keluar dari tengkorak melalui kanalis hipoglosi (yang terletak di tepi lateral foramen magnum). Di dalam leher nervus berjalan di antara a. karotis interna dan vena jugularis interna, diiringi oleh serabut-serabut dari tiga servikal atas (ansa hipoglosi). N. XII mempersarafi otot-otot tulang hyoid (tirohioid, sternohioid, dan omohioid) dan otot-otot lidah (stiloglosus, hioglosus, dan genioglosus).

Nukleus n. XII menerima impuls bilateral namun sebagian besar dari traktus kortikonuklearis kontralateral dan ada serabut-serabut (berasal dari formasio retikularis, nukleus traktus solitaries, otak tengah, nukleus trigeminus) yang merupakan komponen dari lengkung reflek untuk mengunyah, menelan, dan mengisap. Gangguan n. XII dapat berupa gangguan supranuklearis, gangguan nukleus dan gangguan perifer (Satyanegara, 1998).