“Suku Wana” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan )

Posted on

“Suku Wana” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan )

GuruPendidikan.Com – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai suku wana yang dimana dalam hal ini meliputi sejarah, bahasa, mata pencaharian, kekerabatan, agama dan kepercayaan, nah agar lebih memahami dan dimengerti simak ulasannya dibawah ini.

Sejarah Suku Wana

Masyarakat ini dianggap masih bagian dari kelompok besar suku bangsa Pamona atau yang dulu dikenal sebagai kelompok Toraja Bare’e atau Toraja Timur. Orang Wana tersebar didaerah bagian pangkal jazirah Sulawesi Tengah diantaranya Teluk Poso dan Teluk Tomini.

Mereka berdiam di sekitar daerah aliran Sungai Bongka dan anak-anak sungainya yang terletak di bagian pedalaman Kecamatan Ulu Bongka, Bungku Utara dan Barone di Kabupaten Poso, jumlah populasinya mungkin sekitar 5.000 jiwa.

Bahasa Suku Wana

Orang Wana menggunakan bahasa Wana, lazim disebut bahasa Ta’a yakni bahasa ingkar yang masih satu bagian dengan kelompok bahasa Pamona.

Mata Pencaharian Suku Wana

Walaupun masih dianggap masih hidup terasing secara kultural orang Wana sebenarnya tetap menjaga hubungan dengan penduduk pantai terutama untuk memproleh barang-barang dari besi. Untuk memperoleh barang-barang tersebut maka orang Wana berusaha mengumpulkan rotan, damar atau kayu besi untuk dijual dan uangnya digunakan untuk membeli kebutuhan mereka dari pedagang dari pesisir.

loading...

Mata pencaharian mereka umumnya ialah berladang secara tebang, bakar dan berpindah jika kesuburan lahannya sudah hilang, tanaman ladang mereka ialah padi, jagung, ubi-ubian, labu, sayur-sayuran, kopi, pisang dan sedikit kelapa.

Selain meramu hasil hutan mereka juga berburu binatang liar, rusa, babirusa, monyet, burung maleo dan lainnya. Mereka berburu menggunakan senjata sumpitan beracun yang disebut sopu, tombak atau dengan perangkap.

Kekerabatan Suku Wana

Masyarakat terasing ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil dekat lahan perladangan mereka. Pemukiman dekat lahan ini terdiri dari 5-15 keluarga inti. Biasanya satu sama lain masih ada hubungan kekerabatan yang dekat.

Sebuah rumah tangga terdiri atas satu keluarga inti senior yang sering disertai oleh beberapa orang kerabat dekat sebagai kesatuan tenaga kerja, karena sebuah ladang dikerjakan oleh sekitar 5-10 tenaga kerja dewasa dan anak-anak yang sudah bisa membantu pekerjaan yang ringan.

Kepimpinan yang paling efektif dalam kehidupan sosial mereka ialah tokoh yang disebut Tautan Lipu, seorang lelaki senior yang berperan sebagai kepala pemukiman, sekaligus sebagai pemimpin tani dan syaman “dukun”.

Agama Dan Kepercayaan Suku Wana

Orang Wana telah sejak lama berhubungan dengan masyarakat pantai yang beragama Islam, seperti orang Bugis, Mori, Ampana, Bajau dan sebagainya. Karena itu sebagian dari mereka ada juga yang memeluk agama Islam. Ada pula yang kemudian memeluk agama Kristen Protestan yang dibawa oleg seorang penginjil di Lemo, namun yang masih tetap atau kembali kepada kepercayaan lama juga banyak.

Orang Wana yang masih memeluk kepercayaan lama mereka yang animisme dan dinamisme beranggapan bahwa agama mereka lebih tuas dari agama Kristen tetapi lebih muda dari agama Islam “karena agama Islam datang lebih dulu”, kepercayaan lama orang Wana berorientasi kepada adanya kekuatan-kekuatan gaib dan roh-roh yang mendiami tempat-tempat tertentu. Tempat yang mereka anggap sebagai daerah keramat dimana berdiam para roh ialah Gunung Tongku Tua “Tambosisi” yang tingginya sekitar 2.500 meter.

Demikianlah pembahasan mengenai “Suku Wana” Sejarah & ( Bahasa – Mata Pencaharian – Kekerabatan – Agama – Kepercayaan ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Baca Juga:


No ratings yet.

Please rate this